Jaminan Fidusia dan Jangka Waktu Pendaftarannya

Ketika sistem pendaftaran jaminan fidusia diberlakukan secara online beberapa waktu lalu, ada kekhawatiran sistem tersebut menimbulkan permasalahan hukum terhadap Notaris karena tanggung jawab atas keberlakuan dan kekuatan jaminan fidusia tersebut kini dipikul oleh Notaris. Pemerintah tak lagi melakukan pengecekan atau verifikasi atas dokumen-dokumen jaminan seperti yang terjadi sudah-sudah, melainkan hanya mendaftarkan data-datanya saja terkait pemberian jaminan fidusia tersebut, sedangkan sertifikat harus dicetak sendiri oleh pihak Notaris.

Saat ini, tata cara pendaftaran jaminan fidusia telah berubah dengan munculnya Peraturan Pemerintah Nomor : 21 Tahun 2015 (“PP Fidusia”), diantaranya terkait jangka waktu pendaftarannya, yaitu efektif dalam waktu 30 hari setelah tanggal perjanjian jaminan fidusianya serta terkait maksimal honorarium Notaris yang dapat dikenakan atas akta jaminan fidusia tersebut.

Kalau dilihat dari cara penjaminannya, jaminan fidusia merupakan cara penjaminan yang cukup unik. Disebut unik karena barang yang dijadikan jaminan tidak dalam penguasaan penerima jaminan, malah sebaliknya. Penerima jaminan mempercayakan barang jaminan tersebut tetap berada dalam kekuasaan pemberi jaminan, dalam arti tetap dapat dipakai oleh pemiliknya (debitur). Pertimbangannya, cara penjaminan seperti ini adalah untuk mengakomodasi kebutuhan dalam masyarakat. Salah satu kegiatan terkait penjaminan fidusia yang paling populer adalah pembelian motor/mobil secara kredit. Ketika membeli motor atau mobil dengan model pembayaran angsuran (kredit), maka motor/mobil tersebut dijadikan sebagai agunan/barang jaminan, namun fisik kendaraan tetap dikuasai oleh pembeli untuk dipergunakan dengan konsep pinjam pakai. Di pihak lain, perusahaan leasing memegang surat kepemilikan kendaraannya saja beserta bukti penjaminannya, diantaranya berupa akta jaminan fidusia yang dibuat secara notariil dan sertipikat jaminan fidusia yang dikeluarkan oleh kantor pendaftaran fidusia.

‘Keunikan’ lain dari jaminan fidusia dapat dilihat dari aspek pengertiannya (definisi). Fidusia adalah pengalihan hak kepemilikan suatu benda atas dasar kepercayaan dengan ketentuan bahwa benda yang hak kepemilikannya dialihkan tersebut tetap dalam penguasaan pemilik benda. Konsep penjaminan fidusia dalam Undang-Undang Tentang Jaminan Fidusia (UU No.42 Tahun 1999)  tersebut menganut paham peralihan hak kepemilikan. Oleh karenanya dalam praktek, biasanya Pasal 1 Akta Jaminan Fidusia menyebutkan bahwa pembebanan jaminan fidusia atas Obyek Jaminan Fidusia telah dilakukan di tempat dimana Obyek Jaminan Fidusia berada dan telah menjadi miliknya Penerima Fidusia, sedangkan Obyek Jaminan Fidusia tetap berada pada dan dalam kekuasaan Pemberi Fidusia selaku peminjam pakai. Konsep peralihan hak kepemilikan dalam UU Fidusia ini sebenarnya membingungkan. Padahal, Undang-Undang harusnya fundamental. Di dalamnya muncul suatu persoalan yuridis apakah benar suatu penjaminan secara fidusia merupakan bentuk peralihan hak kepemilikan (hak milik) atau pemindahtanganan barang.

Kalau dibandingkan dengan konsep penjaminan yang dianut oleh sistem KUHPerdata kita, disebutkan bahwa penjaminan hanya bertujuan untuk pelunasan utang semata-mata. Sebagi contoh, terkait gadai Pasal 1154 KUHPerdata menyebutkan bahwa dalam hal debitur atau pemberi gadai tidak memenuhi kewajiban-kewajiban, kreditur tidak diperkenankan mengalihkan barang yang digadaikan itu menjadi miliknya. Segala persyaratan perjanjian yang bertentangan dengan ketentuan ini adalah batal. Sejatinya, memang penjaminan tersebut bukan untuk pengalihan hak kepemilikan, melainkan untuk pelunasan utang sehingga ketika terjadi kondisi event of default, obyek jaminan dapat dijual secara dibawah tangan berdasarkan kesepakatan para pihak.

Dengan demikian, penjaminan tak dapat disebut sebagai suatu pengalihan hak kepemilikan atau hak milik. Walaupun pada akhirnya peraliahan hak kepemilikan tersebut bertujuan untuk pelunasan utang, tentunya harus ada proses penyelesaiannya. Selama ini sering terjadi “perampasan” (ambil paksa) kendaraan di tengah jalan oleh para debt collector. Apakah cara penyelesaian seperti ini yang dimaksudkan oleh undang-undang? Mereka (para debt collector) merasa pada posisi kuat karena sesuai konsep penjaminan tadi hak kepemilikan barang sudah beralih kepada kreditor.

Menurut KKBI, pengalihan adalah suatu proses, cara atau perbuatan mengalihkan, pemindahan. Merujuk pada pengertian tersebut, istilah peralihan/pengalihan disini sebenarnya bukan terkait pemindahan atau pergantian hak kepemilikan, melainkan sekedar penyerahan (pemberian) barang dalam pengertian umum. Dalam suatu penjaminan, yang diserahkan tentu adalah barangnya, dan bukan hak kepemilikannya, karena hak kepemilikan tetap berada pada pemiliknya. Jadi, jaminan fidusia sebenarnya bukanlah pengalihan hak kepemilikan, melainkan penyerahan barang secara kepercayaan untuk dijadikan agunan/jaminan. Jaminan fidusia akan memberikan hak kepada penerima fidusia untuk menjual atau mengeksekusi obyek fidusia dalam hal debitur wanprestasi. Oleh karenanya, agar memiliki kekuatan hukum yang pasti, penjaminan secara fidusia harus dilangsungkan dengan akta otentik. Syarat formal adanya akta otentik inilah yang menjadi keunikan fidusia. Tanpa adanya akta otentik, niscaya dapat disebut jaminan fidusia.

Kembali ke masalah pendaftarannya, sekarang ada kewajiban bagi para notaris untuk mendaftarkan jaminan fidusia (bukan perubahannya) secara online dalam waktu 30 hari setelah Akta Jaminan Fidusia ditandatangani. Ketentuan ini pada prinsipnya demi menjamin kepastian hukum. Selama ini, seringkali jaminan fidusia tak kunjung didaftarkan oleh para Notaris sehingga dari sisi kepentingan penerima fidusia, jaminan yang belum didaftarkan tentu tak menimbulkan hak untuk didahulukan. Dengan berlakunya jangka waktu pendaftaran ini, timbul masalah terhadap fidusia-fidusia yang belum sempat didaftarkan (pending karena berbagai hal). Apakah fidusia (akta Jaminan Fidusia-nya) tersebut masih dapat didaftarkan dan bagaimana solusinya? Prosedur baru tersebut juga tak memberikan jalan keluar, sementara para notaris harus dapat memberi kepastian hukum. PP Fidusia juga tak menyebutkan bahwa apabila tanggal pendaftarannya terlampaui (expired), Akta Jaminan Fidusia secara demi hukum menjadi tak berlaku. Di satu pihak, fidusia tak dapat didaftarkan, di pihak lain akta jaminan fidusia telah dibuat dan masih tetap berlaku bagi para pihak. Apakah para pihak harus menandatangani akta penjaminan kembali, tidak ada penjelasannya. Prakteknya, kemudian dibuatkan sebuah pernyataan sepihak dari penerima fidusia selaku kuasa pendaftaran fidusia.

Apakah bentuk pernyataan notariil sepihak dari penerima fidusia dapat dijadikan dasar untuk pendaftaran jaminan fidusia tersebut? Teknisnya, sistem online tak melihat masalah tersebut. Artinya, pendaftaran dapat saja dilakukan dengan menggunakan akta pernyataan notariil sepihak dari penerima fidusia (berbekal kuasa pendaftaran yang diberikan dalam akta jaminan fidusia). Namun apakah ada jaminan dari instansi berwenang bahwa cara tersebut memberikan legalitas yang sama ataukah semuanya kembali menjadi tanggung jawab Notarisnya?

Hal lain yang menarik dalam PP Fidusia adalah masalah biaya pembuatan akta jaminan fidusia. PP tersebut menetapkan batas atas terhadap biaya akta. Hal yang sama juga ditetapkan UU Jabatan Notaris terhadap akta yang dibuat oleh notaris, dimana komponen honorarium tsb adalah nilai ekonomis dan nilai sosiogis (apakah yg dimaksud adalah nilai komersil atau nilai non-komersil, tak ada juga penjelasannya). Notaris harus mematuhi ketentuan mengenai honorarium tersebut, dalam arti tidak mengenakan biaya yang lebih tinggi dari yang telah ditentukan oleh undang-undang. Bila melanggar, notaris tentu sudah melanggar sumpahnya sendiri.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s