Sidik Jari dalam Akta Notaris: Aksesori atau Bukti sebagai Pihak Penghadap?

Dalam iklim bisnis saat ini dimana semuanya serba kompetitif, peran notaris menjadi sangat penting sehingga mau tak mau, notaris pun harus ikut berkompetisi dalam memberikan pelayanannya. Notaris harus senantiasa memperluas wawasan dan pengetahuannya baik dalam bidang bisnis maupun peraturan perundang-undangan. Alasannya, notaris  lahir karena tuntutan masyarakat itu sendiri guna memperoleh perlindungan dan jaminan hukum atas transaksi yang mereka lakukan. Walaupun kompetitif, notaris harus tetap bekerja sesuai dengan koridor hukum dan etika jabatan notaris sehingga akta yang dihasilkan benar-benar otentik dan memberikan kekuatan pembuktian yang sempurna.

Baru-baru ini pemerintah telah memberlakukan Undang-Undang No.2 Tahun 2014 terkait perubahan atas Undang-Undang Jabatan Notaris No. 30 Tahun 2004 yang dianggap sudah ketinggalan jaman. Namun, anehnya, walau sudah dianggap ketinggalan jaman atau tidak sesuai lagi dengan jaman, UU yang baru ini malah menghidupkan kembali pembubuhan sidik jari (cap jari) seperti jaman dahulu pada akta.

Pasal 16
(1) Dalam menjalankan jabatannya, Notaris wajib:
c. melekatkan surat dan dokumen serta sidik jari penghadap pada Minuta Akta;

Penjelasan Pasal 16 angka 1 huruf c:  Cukup jelas.

Ketentuan baru ini tentu mendapat sambutan. Dari sisi bisnis, terutama dari pihak perbankan yang merupakan “rekanan” para Notaris, tak sedikit yang melihat bahwa ketentuan tersebut lebih banyak merepotkan mereka karena tidak praktis. Akta notaris merupakan makanan mereka sehari-hari. Setiap hari mungkin puluhan atau bahkan seratusan akta yang harus ditandatangani (sekaligus diberi cap sidik jari). Kalau harus membubuhkan cap jari, bukankah hal tersebut menyita banyak waktu mereka? Lantaran keluhan tersebut, ada juga notaris yang menerapkan sistem finger print untuk akta mereka sehingga para penghadap hanya perlu sekali membubuhkan cap jarinya. Namun, di sisi lain, tak sedikit yang menolak penggunaan sistem finger print tersebut karena dianggap tak menjamin otentisitasnya.

Bagaimana dari sisi hukumnya? UU tak mungkin dapat seluruhnya memberikan ketentuan yang rinci mengenai penerapan dari UU itu sendiri. Tak heran, sering terjadi kesalahan penafsiran di lapangan. Walau demikian, bagaimana aturan tersebut dapat diterapkan, harusnya ada penjelasan untuk itu. Namun, terkait dengan penerapan sidik jari, penjelasan tersebut tidak kita temukan dalam UU tersebut dan hanya dinyatakan “Cukup jelas“. Artinya, ketentuan pembubuhan sidik jari sudah terang. Menurut KBBI, sidik jari sebagai kata benda dapat berarti rekaman jari atau cap jempol.  Dari pengertian ini, kita dapat menginterpretasikan bahwa yang dimaksud sebagai “sidik jari” adalah rekaman jari atau cap jempol. Apakah itu harus sepuluh jari atau satu jari saja ataupun apakah itu cap jempol kiri atau kanan-kiri, semuanya berpulang pada masalah cara menginterpretasinya. Secara luas, maka sidik jari dapat berarti 10 jari semuanya. Secara sempit, dapat berarti salah satu jari atau jempol saja. Mau pilih yang mana dipersilahkan.

Namun pertanyaan yang mendasar adalah apa movitasi/latar belakang pembubuhan sidik jari ini ke dalam akta. Berdasarkan tradisi, pembubuhan cap jempol hanya dilakukan untuk akta-akta yang tidak dapat ditandatangani oleh penghadapnya, mungkin karena kondisi fisik maupun lantaran penghadap tak dapat menyatakan tandatangannya. Kalau memang pembubuhan sidik jari untuk membuktikan bahwa penghadap benar-benar menghadap notaris dan menyetujui isi akta, maka pertanyaan selanjutnya adalah mengapa harus dilembar tersendiri? Bukankah lebih otentik kalau pada lembar akta itu sendiri?

Akta otentik memiliki tiga kekuatan pembuktian, yaitu kekuatan pembuktian lahiriah, formal dan material. Kini, pembubuhan sidik jari sebagai suatu unsur wajib dalam sebuah akta notaris (kekuatan pembuktian lahiriah) yang juga memberikan penegasan bahwa segala apa yang tertulis dalam akta tersebut adalah sesuai dan benar seperti apa adanya, bukan rekayasa dan dapat menjadi alat bukti yang sempurna bagi para pihak.

Terkait sistem finger print, maka sebelum menerapkannya para notaris harus bertanya apakah sistem tersebut dapat memenuhi tuntutan hukum sebagai alat bukti yang sempurna. Ketika informasi atau data sudah dalam bentuk elektronis ataupun digital, maka tak relevan lagi untuk mempermasalah asli atau fotokopi, karena antara keduanya tak dapat berbeda ciri-cirinya. Kalau toh harus di-print dan kemudian dilekatkan ke dalam akta notaris, apa bedanya hasil print sidik jari dengan fotokopi sidik jari?

Kembali ke persoalan awal, apakah pembubuhan sidik jari itu mutlak harus dilakukan? Kalau mutlak tentu harus ada penjelasannya. Kalau tidak demikian, maka di lapangan hanya akan ada ketidakpastian. Dibandingkan dengan UUJN 2004, UUJN 2014 ini sekarang lebih tegas dalam memberikan sanksi bagi notaris. Dalam UU tersebut, seringkali dinyatakan kalau akta notaris tidak sesuai ketentuan tertentu, akta notaris sama kekuatan pembuktiannya dengan akta di bawah tangan, dan atas konsekuensi tersebut notaris dapat dituntut ganti rugi. Apakah tanpa sidik jari, akta notaris bakal menjadi sama dengan akta di bawah tangan, juga tidak ada ketentuan ataupun penjelasannya. Kalau memang hanya sekedar aksesori, untuk apa penghadap repot-repot membubuhkan sidik jarinya? Kalau memang konsep ketinggalan jaman dalam pembaharuan UUJN diartikan untuk menggunakan teknologi finger print,  ini berarti salah kaprah karena yang disebut ketinggalan jaman itu bukan ketinggalan teknologi. 

Semuanya masih tanda tanya. Sementara itu, pihak lain sibuk menawarkan sistem finger print, yang herannya langsung bermunculan tak lama setelah UU tersebut disetujui.  Apakah ada motivasi bisnis? 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s