Status Anak Luar Kawin (ALK) Paska Putusan MK

Putusan Mahkamah Konstitusi (MK) yang meralat Pasal 43 ayat (1) UU Perkawinan (UU No. 1/1974) dengan putusan perkara Nomor 46/PUU-VIII/2010 tertanggal 17 Februari 2012, tidak saja menyentakkan para “ayah yang tidak bertanggung jawab”, melainkan juga kalangan akademisi dan praktisi dalam bidang perkawinan dan waris. Lho kog masalahnya jauh sampai ke perkawinan dan waris? Inikan cuma untuk meminta pertanggungjawaban dari sang ayah?
Putusan ini bermula dari kasus yang umum terjadi, sebagai akibat ditelantarkannya anak. Namun, dampak dari ralat pasal tersebut kini menjadi luas dan menjadi topik yang sedang hangat dibicarakan. Bahkan, salah satu lembaga keagamaan menuding bahwa putusan MK dapat disalahgunakan untuk menghalalkan zina secara umum dan kumpul kebo. Apa memang sampai ke sana?
Boleh jadi banyak pihak yang merasa terancam kewenangannya dengan ketentuan baru ini. Namun, hal itu baru sebatas  penafsiran. Yang pasti, saat ini, putusan MK tersebut hanya mengatakan bahwa hak anak tidak boleh dirugikan oleh “ayahnya” apabila hubungan keduanya dapat dibuktikan secara ilmiah.
Anak memiliki hubungan keperdataan dengan “ayahnya” apabila terbukti secara ilmiah. Kontroversi sebenarnya terletak pada “hubungan keperdataan”, yang dalam hal ini berarti hubungan-hubungan yang memiliki aspek hukum kekeluargaan, hak untuk dianggap sebagai anak (sah) sehingga berhak atas pengasuhan dan/atau pemeliharaan dan pendidikan atas beban “orangtua” atau hak untuk mendapat warisan sang “ayah”. Banyak yang menganggap bahwa putusan MK tersebut tidak memiliki landasan hukum yang kuat (walaupun sebenarnya UU itu juga landasan hukum). Bagaimana bisa mereka menetapkan suatu hal yang legalitasnya masih bertentangan, misalnya dengan Hukum Perkawinan atau Hukum Waris, terlebih lagi dari sudut pandang Hukum Islam.
Jelas, di sini MK telah membuat terobosan yang berani. Berdasarkan wewenang kelembagaan, MK memang sudah diramalkan bakal menghasilkan produk-produk yang sensasional plus kontroversial. Terlepas dari semua pertentangan-pertentangan, sebenarnya MK telah berusaha memberikan perlindungan hukum bagi anak-anak yang terlahir dari hubungan luar nikah. Bagaimanapun anak-anak tersebut berhak atas perlindungan hukum yang pasti, sejalan dengan UU Perlindungan Anak. Selama ini, hak anak yang dihasilkan dari hubungan luar nikah untuk diakui keberadaannya belum dapat diterima oleh semua pihak. Muncul kekhawatiran dari berbagai kalangan ketika hak anak tersebut diakui, maka sama saja mengakui hubungan perkawinan yang tidak sah. Pandangan ini sebenarnya keliru, karena melihat anak dari perspektif yang tidak tepat. Mereka memandang anak dari perspektif perkawinan, sebagai produk sampingan perkawinan bahwa tiada anak tanpa perkawinan. Di sini, kita tidak lagi berbicara anak sebagai suatu paradigma, melainkan suatu kenyataan bahwa saat ini banyak anak yang ditelantarkan “orangtuanya”. Kalau memandang putusan MK untuk kepentingan perkawinan atau agama, maka penafsirannya pasti berbeda. Kita harus melihatnya dari sisi anak, sisi kemanusiaan bahwa anak berhak mendapat perlindungan hukum. Sebagai mahluk Tuhan, anak hakekatnya terlahir sebagai manusia sebagaimana anak-anak (sah) lainnya. Mereka juga berhak atas perlindungan yang sama. Alangkah tidak bermoralnya kita kalau anak-anak sebagai mahluk Tuhan, sebagai insan manusia, harus mendapat perlakuan yang tidak manusiawi. Anak adalah tetap anak, tidak lebih dan jangan kurang.
Hanya saja, putusan MK ini terasa kurang lengkap, karena saat ini ketentuan tersebut belum harmonis dengan peraturan perundang-undangan lainnya. Kondisi ini menjadi hambatan bagi mereka-mereka yang ingin mendapatkan keadilan karena jalan masih panjang. Selama ini, seorang anak yang lahir di luar nikah, harus diakui oleh ayahnya terlebih dahulu dengan sebuah akta pengakuan anak sebelum dapat dianggap sebagai anak. Namun, terkait dengan hak mewaris menurut Hukum Waris Perdata Barat, bagian hak anak tersebut tetap tidak sama dengan anak yang “sah”. Pasal 280 KUH Perdata, menyatakan bahwa hubungan keperdataan dengan anak ALK (anak luar kawin) akan timbul setelah dibuat pengakuan oleh ayah/ibunya. Namun, setelah UU Perkawinan, hubungan keperdataan antara ibu dan anak tidak perlu lagi ditegaskan. Teorinya, hubungan antara ibu dan anak yang demikian cukup dibuktikan dengan adanya surat keterangan lahir. Jadi, bukan pengakuan yang menimbulkan hubungan keperdataan, namun bukti-bukti atau saksi-saksi yang menguatkan. Demikian juga dengan paska putusan MK, hubungan keperdataan dengan “ayahnya” tidak lagi harus dibuktikan dengan akta pengakuan semata, melainkan dapat dibuktikan dengan hasil uji laboratorium. Pengakuan tersebut bukan datang dari pihak yang berkepentingan, melainkan dari pihak yang memiliki kompetensi, teruji.
Apakah Pasal baru ini dapat mengubah cara pandang kita mengenai perkawinan atau waris-mewaris, kita masih harus menunggu. Putusan ini sama sekali tidak menyentuh mengenai legalitas suatu perkawinan yang tidak sah dan mungkin tidak bermaksud demikian karena pasal-pasal sahnya perkawinan dalam UU Perkawinan tidak diganggu gugat oleh MK. Jadi, kalau putusan MK ini akan mengancam sistem perkawinan di Indonesia, sepertinya berlebihan. Namun, mengenai hak anak “ALK” untuk mendapat pengakuan dari “orangtuanya” atau dibiayai kehidupannya dalam hal ini sudah jelas. Bagi para “orangtua” yang tidak bertanggung jawab, berhati-hatilah karena putusan MK ini menjadi bumerang bagi mereka agar tidak seenaknya melanggar norma-norma dalam masyarakat.
Banyak hal yang perlu diperbaharui agar ketentuan tersebut tidak hanya “tertulis” dalam arti harfiah, melainkan dapat terlaksana. Ini tidaklah mudah karena menyangkut nilai-nilai religius. Sudah alamnya, kalau keyakinan manusia sulit berubah. Kalau diibaratkan teknologi komputer, keyakinan manusia itu seperti sebuah non-volatile memory, tidak berubah walau tanpapower sama sekali.
Posted by Bhfour on Mar 24, ’12 8:01 AM for everyone
 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s