Bahasa Media: Sebuah Permainan

Terry Jones urung membakar Alquran di saat orang-orang memperingati 9 tahun tragedi WTC. Namun, tak ada Terry Jones, muncul Terry lain yang kemudian merobek halaman dari Alquran. Paling tidak, itulah yang dikatakan oleh media. Sepertinya, setelah media ‘bersabda’, semua hal bisa berubah 180 derajat. Apa sih kekuatan dari media, sampai-sampai, hal-hal yang oleh sebagian besar orang dianggap sepele menjadi hal yang begitu besar? Teorinya, media massa merupakan alat pemuas kebutuhan manusia akan rasa ingin tahu (dalam bentuk informasi), mengenai apa-apa saja yang terjadi di luar sana. Dari sini, media massa dianggap pula berperan sebagai alat untuk mengubah masyarakat tidak beradab menjadi yang beradab (walaupun kebanyakan yang diberitakan oleh media adalah hal-hal yang tidak beradab sama sekali).
Namun, media tidak berarti apabila tidak ada sarana lain untuk mengekspresikannya. Bahasa! Dengan bahasa, media menjadi alat yang sempurna untuk melakukan perubahan (boleh berarti: guncangan, kehebohan, kan). Dengan bahasa, realitas dapat diperlintir (aduh, istilahnya).
Menurut Wittgenstein, bahasa itu selalu memiliki konteks, penggunaannya selalu berubah. Tanpa konteks, bahasa tidak memiliki arti (tidak ada realitasnya). Bahasa baku berbeda dengan bahasa pasaran. Bahasa bakuumumnya digunakan untuk lingkungan yang formal, sedangkan bahasa pasaran (bahasa gaul) merupakan bahasa percakapan sehari-hari. Keduanya eksis sebagai alat komunikasi dalam masyarakat. Walaupun demikian, makna suatu bahasa baku bisa bertolakbelakang dengan bahasa pasaran, walaupun bentuk katanya sama.
Baku:
A: “Kamu tahu artinya?”
B: “Tahu.”  ===> benar-benar tahu
 
Pasaran:
A: “Kau tahu artinya?”
B: “Tahu, daaah.” (dengan nada naik) ===> sama sekali tidak tahu!
Jadi, dapat dikatakan bahwa bahasa selalu memiliki konteks agar memiliki sebuah makna.
Terkait dengan media, bahasa sudah lama dijadikan sebagai alat untuk melakukan perubahan (baca: agitasi). Agitasi ini terjadi karena bahasa dibawa oleh media ke dalam konteks yang bukan konteksnya, bukan lingkungannya. Alhasil, makna bahasa tersebut mudah terpelintir. Tidak salah, kalau media banyak dianggap, selain alat kontrol sosial, juga sebagai alat pelintir sosial. Lihat saja bahasanya, Alquran dirobekAlquran akan dibakar, sangat agitatif. Padahal, belum tentu itu benar-benar terjadi dan belum tentu itu benar-benar Alquran. Tulisannya saja Koran, yang tentunya berbeda dengan Alquran yang digunakan di sini. Alquran dirobek itu pun sebenarnya berbahasa Inggris dan merupakan sebuah terjemahan. Artinya, bukan aseli Alquran itu sendiri dantidak dapat disamakan kedudukannya. Jadi, mengapa begitu besar reaksinya, karena media menyodorkan realitas seolah-olah yang menjadi obyek itu adalahAlquran yang sebenarnya. Dalam hal ini, konteks negara pun memberikan makna yang berbeda pula. Di AS, negara yang tidak mempidanakan kebebasan berekspresi (masih limitatif juga, paling tidak, tidak di tempat umum), sebuah pembakaran atau perobekan barang milik pribadi dapat dianggap sebagai  hak mengekspresikan ketidaksetujuan mereka. Sementara, di sini, konteksnya sangat berbeda. Membakar berarti menghina dan menghina masih dipidanakan di sini.
Bahasa merupakan sebuah permainan. Ada aturannya, ada konteksnya. Bila keluar dari aturan dan konteksnya, bahasa bisa berubah menjadi sebuah mesin pelintir.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s