Tujuan Hukum yang Salah-Kaprah

Gambaran abstrak mengenai tujuan hukum dapat terlihat dari banyaknya teori-teori yang mencoba menjelaskan mengenai tujuan hukum itu sendiri. Artinya, hukum bukanlah hal yang mudah untuk dipahami lantaran wujudnya yang abstrak (tak jelas). Sementara, dalam prakteknya, ‘roh’ ini menjadi alat yang penting dalam menyelesaikan masalah-masalah yang terjadi dalam masyarakat.

Teorinya, hukum dikatakan bertujuan untuk mencapai keadilan, agar bermanfaat bagi masyarakat dan demi kepastian hukum itu sendiri. Walaupun pada awalnya tujuan-tujuan ini merupakan aliran terpisah, ada konsep yang menyatukan ketiganya. Kalau dikaji-kaji, tujuan-tujuan ini sebenarnya kontradiktif satu sama lain dan bukanlah suatu tujuan dari hukum itu sendiri, melainkan misi hukum. Kontradiktif karena satu sama lain bertentangan, tidak mungkin tercapai. Keadilan belum tentu memberikan manfaat, adanya manfaat belum tentu mencerminkan keadilan, keadilan belum tentu dapat diwujudkan/dieksekusi (kepastian), kepastian belum tentu bermanfaat atau adil, dsb. Sepertinya, ada yang salah dengan konsep mengenai tujuan hukum. Okelah, mungkin ini bukanlah suatu kesalahan. Hukum pada dasarnya dapat dilihat dari berbagai perspektif. Bagi beberapa orang, hukum mungkin memiliki tujuan yang berbeda. Terlepas dari keberagaman pendapat itu, sebenarnya, hukum itu mempunyai satu tujuan yang pasti, yaitu untuk menjaga ketertiban dalam masyarakat.

Permasalahannya, hukum bukanlah alat yang sudah jadi dan bergerak sendiri (otonom) untuk dapat menjadi penjaga ketertiban. Sebaliknya, hukum hanyalah alat bagi yang membuat hukum untuk menjaga ketertiban yang disebabkan oleh masyarakat itu sendiri. Artinya, dari sisi mana saja, sebenarnya hukum tidak perlu diragukan lagi. Dari sisi mana saja, konsep tujuan hukum adalah hal yang positif. Kendalanya hanyalah di manusianya itu sendiri, baik yang membuat hukum ataupun yang menjalankan hukum.

Adalah hal yang biasa ditemukan takkala seseorang mengatakan bahwa hukum ini tidak adil, pengaturan hukum itu tidak lengkap, hukum ini bertentangan dengan hukum itu, terjadi kekosongan hukum, hukum harus berada di depan (hukum harus diciptakan), dan lain sebagainya. Sebenarnya tidak ada yang salah ataupun kurang dengan hukum. Hukum pun sebenarnya sudah ada di dalam masyarakat itu sendiri. Dalam konteks negara di mana masyarakat itu sangat beragam, hukum bersama pun sudah tercipta. Permasalahannya, hukum itu tidak berdiri sendiri. Hukum tidak dapat berjalan sendiri. Hukum harus dijalankan. Agar dapat dijalankan, hukum harus diberlakukan. Agar berlaku, hukum harus dibuat oleh orang-orang berwenang. Agar orang-orang menjadi berwenang, mereka harus ditunjuk berdasarkan hukum, nah lho … kembali lagi ke hukum.

Memang, membahas tujuan hukum tidak mudah, karena ujung-ujungnya akan kembali ke hukum itu juga. Lantaran akan kembali ke hukum itu sendiri, pembahasan ini tiada guna. Jadi, hukum sebenarnya ilmu yang tiada guna dibahas karena jawaban dari masalah hukum itu ada dalam hukum itu sendiri. Ilmu yang an sich!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s