Kedewasaan yang Bukan Salah-Kaprah

Semakin kompleks kehidupan manusia, semakin ingin manusia untuk hidup lebih sederhana. Ini terlihat dari trend terkini yang mengedepankan minimalitas, mulai dari ruang pribadi sampai ke ruang publik. Masalahnya, dinamika kompleksitas kehidupan tidaklah dapat dibendung begitu saja karena ia merupakan produk dari mesin masyarakat itu sendiri. Bila dihalangi, ia terus menggilas. Sadar atau tidak, budaya manusia telah menciptakan suatu kehidupan yang semakin rumit. ‘Sampah’ mesin masyarakat inilah yang menjadi ketakutan bagi setiap individu yang merasa terancam kehilangan identitas (bangsa). Repotnya, ketakutan seperti ini kemudian menjadi gunung api yang memuntahkan bencana bagi seluruh sendi-sendi kehidupan di sekitarnya. Bagi mereka, perubahan identitas diri menjadi setan kedua.

Demikian juga dengan tampil seronok atau seksi, atau sensual, atau hot, maupun porno. Tampil minimalis seperti ini ternyata bukan yang dimaksud sebagai tampil sederhana. Pro-kontra meletus seiring dengan rencana  pemberlakukan Rancangan Undang-Undang Anti Pornografi Jilid 2. Bagi aturan hukum ini, siapa saja yang tampil minimalis dapat dihukum. Padahal, tampil minimal dan porno sebenarnya dua ‘barang’ yang berbeda. Tampil porno lebih bermuatan komersil — menjual diri. Sementara, tampil minimalis lebih ke pamer sesuatu agar dilihat orang, tanpa ada kesan menjual diri. Aneh memang, padahal hal-hal yang minimalis harusnya didukung. Selain hemat bahan baku, juga hemat biaya produksi sehingga hemat energi.  Jadi berpikir-pikir, mengapa begitu sulit bangsa ini menjadi maju? Alasannya, ternyata singkat saja, karena memang maunya kita berpikir yang gampang-gampang saja. Saking gampangnya,  begitu masalah masih dalam tahap wacana (belum menjadi masalah), sebagian besar orang ingin agar bibit masalah tersebut jangan sampai eksis. Sebelum menjadi masalah, calon masalah harus dibasmi dulu. Bukanlah berusaha untuk mencari jalan keluar atau solusi apabila sebuah masalah muncul. Masalah  daerah sini tidak dibiarkan berkembang sehingga akhirnya pola pikir manusia bangsa ini dipaksa untuk tidak mau menerima masalah. Bangsa ini terlalu takut untuk menghadapi masalah. Apakah karena bangsa ini merasa lemah – lemot? Tidak heran, banyak orang yang selalu berdoa agar “semoga tidak ada masalah” atau “jauhkan kami dari segala masalah”. Padahal, bila kita bandingkan dengan negara-negara maju, orang-orang di sana selalu menyebutkan “no problem”. Bagi mereka, semua masalah dapat diatasi, … kecil-lah, sehingga mereka-mereka selalu senang berhadapan dengan risiko. Lihat saja, film-film hollywood yang menakutkan. Tokoh yang sebenarnya sedang diancam/takut,  malah menantang untuk mengetahui apa yang sedang mengancamnya/menakutinya (“hello, who’s there). Bandingkan dengan film horor lokal, tokoh yang takut pasti lari tunggang langganggg!!! Apakah kita mau dicap sebagai orang yang takut dengan masalah untuk seterusnya? Kalau mau aman-aman saja/damai-damai saja, pasti menjawab “ya”. Masalahnya, dalam kondisi yang aman-aman saja/damai-damai saja, pasti tidak ada kemajuan, apapun bentuknya.

Konsep belajar tradisional yang menolak masalah seperti ini sepertinya tidak perlu lagi dilestarikan. Untuk menjadi sebuah bangsa yang besar (seperti idaman tokoh-tokoh capres 2009), bangsa kita harus mendapatkan pendewasaan dalam segala aspek kehidupan. Pendewasaan yang akan memberikan kemampuan bagi bangsa ini untuk menghadapi berbagai masalah-masalah (yang rumit) tanpa harus takut akan fobia-fobia tertentu.

Sebuah bangsa tidak akan maju apabila tidak ada penelitian (research), sudah pasti. Ilmu itu tidak turun dari surga, selalu ada upaya manusia untuk mengilmukan pengetahuan. Tentu saja, tidak akan ada suatu penelitian kalau saja tidak ada MASALAH! Jadi, menolak masalah bukanlah budaya ke-ilmu-an, melainkan budaya ke-elmu-an, budaya dukunisme. 

Menolak ‘pornoaksi/-grafi’ dengan menyamakan Kedewasaan yang Bukan Salah-Kaprah, sensualitas atau keseksian dengan pornoisme adalah salah satu cara yang maunya  gampang saja. Ciri ketimuran tidak akan hilang walaupun pornoisme itu legal, karena prinsipnya yang memegang teguh adat-istiadat itu ya individu-individunya. ‘Menjual diri’ untuk memberikan kesenangan memang tidak baik.  Namun, apa boleh buat, kondisi ekonomi begitu menekan masyarakat itu sendiri. 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s