Merdeka Tapi…

Merayakan ulangtahun RI ke-63 ternyata hanya hiasan di TV dan kantor kelurahan saja. Di jalan-jalan, banyak sekali kendaraan, terutama roda-dua yang tidak mengenakan bendara merah-putih. Dibandingkan dengan tahun-tahun sebelumnya, hari jadi RI kali ini cukup berbeda. Apa sebabnya?

Dahulu rakyat ‘takut’ tidak mengibarkan bendara, sekarang semuanya berbeda. Ketika ditanya, jawabannya cukup enteng, “wong rakyat susah, mikir cari uang untuk kebutuhan sehari-hari..”. Benar juga, apakah masih sempat untuk bergembira? Namanya saja orang susah, susah semuanya deeh…

Bisa jadi naiknya harga bensin dari 2000-an menjadi 6000-an membuat pengguna kendaraan rodadua semakin bertanya-tanya, ke mana kemerdekaan yang diperoleh selama ini? Tidak cukupkah mengalami kesulitan selama masa penjajahan? Mungkin dengan cara ini, para pengendara motor ingin menyampaikan protes mereka. Masalahnya, walaupun harga minyak sudah turun di tingkat internasional, hanya bahan bakar non-subsidi yang diturunkan sekitar 1000 Rupiah. Tentu saja bensin subsidi tidak akan turun, karena konsepnya kemarin bukan menaikkan harga minyak, melainkan mengalihkan subsidi minyak ke barang lain.

Rasa kebangsaan Indonesia kali ini dicoba. Semboyan ‘bersama kita bisa’ ternyata masih kurang jelas/mengena bagi sebagian besar bangsa Indonesia. Bersama kita bisa dalam hal apa dulu? Kalau bersama-sama kita (baca: rakyat yang sudah susah) bisa dalam kesusahan dan para koruptor bergembira di luar sana, mana ada yang mau! Kalau bersama kita bisa dalam kesusahan dan para kapitalis di luar sana bergelimang harta tanpa memikirkan rakyat yang kecil-kecil, siapa yang mau! Kalau bersama kita bisa menghemat listrik (baca: rela terkena jadwal giliran listrik padam), tapi di luar sana banyak orang kaya yang menghambur-hamburkan listrik, siapa yang mau! Intinya, tidak ada yang mau bersama-sama susah kalau tidak semuanya mengalami susah.

Memang sudah nasibnya rakyat kecil. Lantaran kecil (dan bodoh), selalu menjadi korban. Dari dulu sampai sekarang, selalu diajak untuk hidup berhemat bersama-sama, hidup prihatin bersama-sama. Lihat siapa yang menanggung utang (kredit macet) para koruptor ke luar negeri: rakyat kecil. Lihat siapa yang menanggung spekulan minyak dalam negeri: rakyat kecil juga. Harga-harga melambung, sampai-sampai tidak ada uang untuk membeli bendera kecil merah-putih untuk menyemarakkan hari jadi RI! Dirgahayu Indonesia bukan untuk panjang umur dalam kesusahan. Harapan rakyat kecil, Indonesia benar-benar terbebas dari penindasan gaya baru. Lupakan kemakmuran, lupakan kesejahteraan, apalagi tinggal landas (tertinggal di landas, maksudnya?). Hanya untuk mendapatkan keberpihakan pemerintah kepada rakyat kecil saja, susahnya minta ampun.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s