Hukuman sebagai Efek Jera yang Salah-Kaprah

Bahasa secara khusus tidak hanya sebagai alat komunikasi, tergantung dari aplikasinya. Dalam kehidupan sosial, bahasa justeru dapat dijadikan sebagai alat menghukum (menghujat, memfitnah). Dalam politik, bahasa bisa dijadikan sebagai alat berkampanye. Dalam bisnis, bahasa bisa dijadikan sebagai alat mencari keuntungan (kasarnya: jual omongan – belagak motivator! ) atau alat untuk menjatuhkan pesaing usaha.

Dalam hukum, bahasa sangat memiliki peran yang penting. Salah menggunakan bahasa atau salah mengartikan bahasa, dampaknya akan sangat besar. Vonis hukuman mati yang diucapkan hakim tidak dapat ditarik lagi dengan hanya menggunakan kata ‘maaf’. Untuk masalah ribut dengan tetangga, tentu kita bisa berdamai dengan mengucapkan kata ‘maaf’ saja. Berbeda dengan hukuman mati, apabila sudah diucapkan oleh hakim dan kemudian dieksekusi, maka tidak ada yang dapat mengembalikan orang yang sudah mati.

Demikian juga dengan ‘efek jera’. Banyak yang menggunakan kata ini, namun tidak menempatkannya pada konteks yang benar. Akibat dari salah menempatkan dua kata ini sebenarnya fatal, karena bisa mengacaukan sistem hukum. Coba lihat saja dalam perdebatan mengenai hukuman mati. Hampir semua berpendapat bahwa hukuman mati harus tetap dipertahankan untuk menimbulkan efek jera. Teorinya, hukuman pidana memang diberikan untuk tujuan pembalasan dan menimbulkan efek jera. Masalahnya, efek jera kepada siapa? Konteksnya yang mana nih? Apa yang dimaksudkan dengan efek jera?

Dalam kamus KBBI, kata ‘jera’ diartikan sebagai:
—-| tidak mau (berani dsb) berbuat lagi; kapok; serik: meskipun sudah dua kali dipenjara, ia belum juga –;|—- 

Dari pengertian tersebut, maka penggunaan kata ‘efek jera’ dalam masalah ini harus ditempatkan dalam konteks pelaku yang sudah pernah atau berulang kali melakukan tindak pidana, bukan bagi mereka yang mau/akan/ingin melakukan tindak pidana. Lebih jelasnya, seorang koruptor dihukum penjara supaya menimbulkan efek jera, bukan bagi orang lain yang telah/mau/termotivasi untuk korupsi, melainkan efek jera bagi dirinya sendiri. Tujuannya, agar si pelaku yang dihukum tersebut tidak lagi melakukan korupsi setelah bebas dari penjara. Bila pengertian ini dikaitkan dengan hukuman mati, sangat tidak benar apabila ada pendapat yang mengatakan bahwa hukuman mati dikenakan dengan tujuan menimbulkan efek jera (bagi orang lain????) untuk tidak lagi melakukan kejahatan serius. Ada dua kontradiksi di sini:

Kontradiksi pertama: Apakah orang yang sudah mati dieksekusi dapat kembali berbuat kejahatan atau merasa jera melakukan kejahatan? Tentu tidak mungkin. Padahal, efek jera itu sebenarnya harus ditujukan kepada si pelaku, yang bila dikaitkan dengan HAM, maka agar orang jera, orang tersebut tidak boleh dihukum mati. Konsekuensinya, hukuman mati seharusnya TIDAK ADA. Demikian juga dengan HUKUMAN SEUMUR HIDUP! Tidak ada efek jera bagi mereka yang dihukum seumur hidup dan dihukum mati. Supaya jera, mereka harus dihukum penjara dalam waktu tertentu dan kemudian dibebaskan, selanjutnya dilihat apakah ada efek jera atau tidak.

Kontradiksi kedua: Apabila memang ‘efek jera’ ditujukan untuk orang lain (bukan di pelaku), maka penempatan kata ‘jera’ tidak kontekstual. Tidak semua masyarakat di luar penjara adalah penjahat atau residivis (umum: orang yang sering keluar masuk penjara, hukum: orang yang kembali berbuat kejahatan dalam waktu 5 tahun). Apakah dalam masyarakat terdapat banyak calon-calon penjahat, kemungkinan memang benar. Namun, untuk masyarakat seperti ini tidak bisa dikatakan jera karena mereka belum pernah melakukan kejahatan atau tidak semua masyarakat itu residivis. Bagi mereka yang belum pernah berbuat kejahatan, penghukuman lebih tepat untuk tujuan menakut-nakuti (premanisme) agar tidak berbuat kejahatan, bukan efek jera. Ada yang mau dianggap residivis?

2 thoughts on “Hukuman sebagai Efek Jera yang Salah-Kaprah

  1. Pingback: Memiskinkan Koruptor: Antara Efek Jera, Keadilan dan HAM | No Man's Land

  2. Pingback: Hukuman Mati: Bertentangan dengan Hak Asasi Manusia? | No Man's Land

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s