Asli atau Palsu Bukan Masalah Benar atau Tidak

Menyebarnya ‘rekaman‘ parsial kotak hitam dari pesawat AdamAir KI-574 ke publik bak seperti buah simalakama. Antara diakui atau tidak, sama-sama menimbulkan masalah. Publik pun bertanya-tanya apa memang benar itu rekaman yang asli. Pertanyaan ini memang langsung direspon oleh Menhub, mengatakan bahwa rekaman itu tidak asli/original karena bukan keluar dari KNKT. Lha, emang KNKT tidak akan pernah merilis rekaman seperti itu karena dikatakan rahasia. Justeru KNKT tidak pernah mengeluarkan begituan secara resmi, Menhub sebenarnya tidak punya alasan untuk mengatakan bahwa ‘itu tidak asli karena bukan dari KNKT’. Jauh api dari panggang. Publik sebenarnya bukan mempertanyakan asli atau tidak, melainkan apakah memang benar itu rekaman dari kokpit AdamAir KI-574. Benar atau tidak sih? Substansi rekaman (isinya) apakah memang rekaman dari kotak hitam itu, atuh Bapak? Aya-aya waee..

Kalau disimak dari pernyataan Menhub sebenarnya rekaman yang beredar itu memang dari kotak hitam yang dimaksud, namun sudah ada modifikasi (baca: penambahan). Lha, ini masalah asli atau benar sih? BENAR, TAPI SUDAH DIMODIFIKASI? Apakah ini termasuk ASLI? Jadi bingung. Sebenarnya, Menhub mau bilang apa, apakah tidak asli dan tidak benar? 
Kebenaran tidak sama dengan keaslian. Bisa saja benar, namun tidak asli. Bisa saja asli, namun tidak benar. Memang, keaslian berhubungan dengan kebenaran. Kebenaran sesuatu tidak hanya dilihat dari keaslian/orisinilitasnya (baca: sumbernya). Dengan kata lain, BENAR atau TIDAK BENAR, itu masalah BOHONG (ilusi) atau TIDAK BOHONG (nyata). Namun, ASLI atau TIDAK ASLI, itu adalah masalah DARI SUMBERNYA atau KOPIAN/PALSU. Sesuatu yang benar bisa saja tidak berasal dari sumber yang asli/orisinal dan sebaliknya. Namun, bagaimana pun akan ideal apabila sesuatu itu benar dan asli (ini baru klop). Apalagi di jaman digital seperti sekarang, sulit membedakan mana yang asli mana yang bukan. Ya, sudah dulu, masalah benar dan asli sebenarnya tidak gampang didefinisikan, cuma bisa dirasakan.

Secara hukum (atau secara politis) memang bisa dikatakan tidak asli karena alasan tadi. Namun, nasi sudah jadi bubur, siapa dalangnya tidak perlu heran. Menurut regulasinya (PP 3/2001 ttg Keamanan dan keselamatan Penerbangan), penyelidikan penyebab kecelakaan pesawat udara dilakukan oleh Sub Komite Penelitian Kecelakaan Transportasi Udara. Hasilnya akan disampaikan kepada Menteri dan juga Organisasi Penerbangan Sipil Internasional. Jadi, pihak-pihak yang memegang hasil penyelidikan sebenarnya banyak juga.

Kalau Menhub beralasan bahwa rekaman dalam kotak hitam harus dirahasiakan berdasarkan ketentuan International Civil Aviation Organization/Konvensi Chicago (Annex 13 — Aircraft Accident and Incident Investigation) yang diratifikasi oleh Indonesia pada 27 April 1950 (Notification of Adherence), berarti ada ketidakkonsistenan. Untuk proses pengadilan pilot Marwoto, KNKT malah memberikan rekaman dari kotak hitam sebagai barang bukti. Nah lho? Padahal dalam Konvensi Chicago, rekaman seperti itu tidak boleh digunakan sebagai barang/alat bukti karena tujuannya hanya untuk mendukung penyelidikan penyebab kecelakaan.

Dalam perkembangannya, ternyata sekarang ini pihak media TV diancam untuk tidak menyiarkan kembali rekaman tersebut karena hanya akan membangkitkan duka para keluarga korban. Media juga harus meminta maaf untuk itu. Sepertinya, tekanan untuk tidak menyebarluaskan rekaman tersebut begitu tinggi sehingga masyarakat semakin bertanya-tanya ada apa gerangan dengan rekaman seperti itu, biasa saja. Sebenarnya, yang menghebohkan adalah dengan munculnya rekaman ini, masyarakat memperoleh informasi yang berbeda dari yang sebelumnya, misalnya, bahwa kecelakaan terjadi karena kesalahan pilot. Dari rekaman tersebut, bisa disimpulkan bahwa itu bukan kesalahan pilot, melainkan kesalahan pesawat. Namun, ada satu hal yang menarik untuk mendukung bahwa rekaman tersebut adalah asli. Informasinya,salah satu laptop milik KNKT dinyatakan hilang di Hotel Sari Pan PasificNah, kejadian-kejadian ini sepertinya saling terkait sehingga memungkinkan untuk membentuk sebuah fakta bahwa rekaman tersebut bukan bohong. Kemungkinan besar, rekaman MP3 tersebut di-copy dari laptop  yang hilang tadi. Kejadian seperti ini bukan hanya satu kali. Lihat  saja pada kasus-kasus penyebaran gambar atau clip porno para seleb. Umumnya, materi tersebut menyebar setelah korbannya kehilangan handphone.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s