Sistem Pembayaran Online

I. Pendahuluan

Saat ini, ekonomi dunia mengalami perubahan yang sangat mendasar. Sistem ekonomi nasional yang semula terisolasi satu sama lain oleh batas-batas negara berubah menjadi sebuah sistem ekonomi global yang terintegrasi dan saling bergantung satu sama lain. Perubahan ini secara umum dikenal sebagai globalisasi[1] yang mencakup globalisasi pasar (market globalization) dan globalisasi produksi (production globalization).

Dengan munculnya era globalisasi ini, volume dan nilai transaksi perdagangan lintas-batas negara menjadi meningkat seiring dengan meluasnya pasar. Menurut sebuah laporan yang dipublikasikan oleh PBB,[2] perkiraan volume dan nilai pembayaran lintas-batas negara (cross-border payment) dalam satu dekade (2003-2013) untuk kawasan Amerika, Eropa dan Asia-Pasifik mengalami pertumbuhan yang dinamis, yaitu dari sekitar 2,5 miliar transaksi dengan nilai mencapai US$ 318 triliun menjadi 6,8 miliar transaksi dengan nilai mencapai US$ 489 triliun. Pola pertumbuhannya hampir sama dengan pertumbuhan volume dan nilai pembayaran domestik yang diperkirakan meningkat dari 213 miliar transaksi dengan nilai mencapai US$ 1.731 triliun menjadi  414 miliar transaksi dengan nilai US$ 3.146 triliun pada tahun 2013.

Trend ekonomi global ini secara umum dipengaruhi oleh dua faktor[3]. Pertama, berkurangnya hambatan dalam aliran barang, jasa dan modal yang terjadi sejak akhir Perang Dunia II. Kedua, adanya perkembangan teknologi, terutama yang terjadi dalam bidang komunikasi, pemprosesan informasi[4] dan transportasi.

Dunia telekomunikasi dan informasi berkembang cepat dengan ditemukannya Internet dan World Wide Web[5]. Perkembangan ini ditandai dengan makin meningkatnya jumlah pengguna (userInternet di seluruh dunia. Pada tahun 1990, pengguna yang terkoneksi ke Internet masih berjumlah 1 juta orang,[6] sedangkan pada bulan September 2002, jumlahnya meningkat menjadi 605,60 juta orang[7] di seluruh dunia. Jumlah ini masih bertambah secara signifikan berdasarkan data pada tahun 2007. Pengguna yang onlinesaat ini diperkirakan sudah mencapai 1,5 miliar orang.[8]

Dibandingkan dengan perkembangan teknologi komunikasi lain, seperti radio dan televisi, Internet dan World Wide Web memiliki peranan yang strategis karena perkembangannya sangat cepat. Internet hanya membutuhkan waktu selama 3 tahun untuk menjangkau sekitar 50 juta pengguna. Sementara, radio membutuhkan waktu sekitar 38 tahun dan televisi sekitar 13 tahun untuk menjangkau 50 juta pemirsa.[9]

Oleh karena peranannya yang strategis dalam memperluas pasar ke seluruh dunia, Internet dan World Wide Web menjadi sarana pendukung yang lebih disukai dalam sistem perdagangan perekonomian global. Berdasarkan hasil sebuah survei yang dilakukan di Amerika Serikat yang memiliki peran penting dalam pengembangan Internet, sebanyak 71 persen dari penggunaInternet pernah membeli sebuah produk secara online.[10] Sistem perdagangan berbasis Web seperti ini sekarang lebih dikenal sebagaielectronic commerce atau e-commerce.  Memang, belum ada satu definisi yang seragam mengenai apa yang dimaksud dengan e-commerce. Selain itu, terdapat beberapa istilah yang sering digunakan untuk merujuk pada sistem perdagangan e-commerce, antara lain: electronic business atau e-business,Internet businessInternet commerce atau new economy.[11] Walaupun berbeda istilah, semuanya merupakan sinonim dari istilah e-commerce.

Menurut Greenstein dan Feinman,[12] e-commerce didefinisikan sebagai:

The use of electronic transmission mediums (telecommunications) to engage in the exchange, including buying and selling, of products and service requiring transportation, either physically or digitally, from location to location. 

Dari definisi tersebut, transaksi yang dilakukan dalam sebuah e-commercememiliki cakupan yang luas, tidak terbatas pada penggunaan sarana Internet saja, melainkan melalui semua sarana transmisi elektronik atau sistem telekomunikasi. Sebelum era Internet, pertukaran dokumen elektronik antarperusahaan, seperti order pembelian atau tagihan, sudah dilakukan melalui sistem EDI (Electronic Data Interchange). Seddon, yang dikutip dari Whiteley, memberikan 3 periode dari aplikasi e-commerce,[13] yaitu:

  • 1955 – 1974: Era Electronic Data Processing (EDP)

  • 1975 – 1994: Era Management Information System (MIS)

  • 1995 – 2014: Era Internet.

Walaupun sistem EDI masih tetap digunakan, e-commerce saat ini lebih identik dengan Internet dan World Wide Web. Hal ini disebabkan oleh tingginya biaya penerapan sistem EDI sehingga banyak perusahaan lebih memilih saranaInternet. Dampak dari penggunaan Internet sebagai media e-commerceternyata cukup besar. Pada tahun 1998, perusahaan Boeing melaporkan telah menerima pesanan sukucadang senilai US$ 100 juta[14] melalui Websitemereka. Sementara, melalui sistem EDI internal perusahaan, hanya 10 persen dari pelanggan Boeing yang memesan sukucadang.

Sistem perdagangan e-commerce memberikan beberapa keuntungan bagi perusahaan, baik perusahaan skala kecil maupun skala besar.[15]Pertama, perusahaan dapat memperluas pasar mereka secara global dengan biaya yang lebih ekonomis. Kedua, Web memberikan kemudahan bagi penjual dan pembeli untuk bertransaksi, tanpa melihat perbedaan lokasi atau skala dari kedua belah pihak, apakah termasuk perusahaan besar atau kecil.

Dilihat dari aplikasinya, terdapat empat kategori atau model bisnis yang membedakan e-commerce,[16] antara lain:

  • Business-to-Business (B2B), yaitu transaksi bisnis yang dilakukan antara dua perusahaan dalam cakupan menyeluruh, termasuk pembelian, manajemen supplier, manajemen inventori, manajemen distribusi, kegiatan penjualan dan manajemen pembayaran, servis dan support. Dalam hal ini, baik penjual maupun pembeli merupakan perusahaan.
  • Business-to-Consumer (B2C), yaitu transaksi yang dilakukan antara perusahaan dan konsumen atau individu. Salah satu model bisnis yang cukup terkenal saat ini adalah situs belanja bukuhttp://www.amazon.com.
  • Consumer-to-Consumer (C2C), yaitu transaksi yang dilakukan antara konsumen atau individu. Model bisnis C2C juga dikenal sebagai Personal to Personal (P2P) yang dapat saja melibatkan atau tidak melibatkan pihak ketiga, seperti situs jual beli melalui lelang http://www.ebay.com.
  • Consumer to Business (C2B), yaitu transaksi bisnis yang dilakukan oleh konsumen-konsumen sebagai kelompok pembeli ataupun penjual terhadap suatu perusahaan.

Berdasarkan tipenya, transaksi online dapat dibedakan ke dalam 2 kategori[17], yaitu transaksi yang berkaitan dengan jual-beli barang dan jasa serta transaksi yang melibatkan transfer informasi dan jasa online secara langsung (direct online transfer of information and services). Pada kategori pertama, Web menjadi sarana bagi para pihak untuk berkomunikasi, sedangkan barang dan jasa diserahkan langsung (physical delivery). Sementara, pada kategori kedua, Web digunakan, baik sebagai sarana komunikasi para pihak, maupun sebagai media pertukaran informasi dan jasa (sebagai medium of communication sekaligus medium of exchange).

Sistem perdagangan elektronik juga membawa perubahan baru sebagai alat pembayarannya. Sistem pembayaran tidak lagi berbasis pada kertas, melainkan  juga berlangsung secara elektronik (electronic money atau e-money). Hal ini disebabkan oleh karakteristik dari sistem pembayaran berbasis kertas yang tidak lagi mendukung kebutuhan akan kecepatan, keamanan, privasi dan internasionalisasi sistem perdagangan elektronik itu sendiri.[18]Selain itu, dibandingkan dengan sistem pembayaran tradisional, sistem pembayaran elektronik memiliki beberapa kelebihan,[19] antara lain efisiensicash flow yang lebih baik, transaksi yang terjamin, biaya yang lebih ekonomis, proteksi terhadap informasi yang sensitif, dan meningkatnya proteksi terhadappayment provider.

Sebagai alat pembayaran elektronik, uang elektronik sebenarnya bukanlah hal yang baru. Metode pembayaran melalui credit card dan debit cardsudah lama digunakan di Indonesia. Seiring dengan berkembangnya penggunaan Internet,  saat ini tersedia berbagai layanan pembayaran onlinemelalui Internet, seperti PayPal (http://www.paypal.com), MoneyBookers (http://www.moneybookers.com), atau eGold (http://www.e-gold.com). Semua uang elektronik yang digunakan sebagai pembayaran atau pengiriman dana melalui Internet ini digolongkan secara khusus oleh Guttmann sebagai cybercash.[20]

Setidaknya, terdapat dua masalah paling mendasar yang menjadi hambatan dalam melakukan transaksi secara online, yaitu kepercayaan (trust) dan risiko (risk).[27] Kurangnya kepercayaan terhadap pihak lain dan terhadap bisnis yang dilakukan melalui Internet akan menjadi masalah yang substansial apabila risiko yang dihadapi cukup tinggi.

Meningkatnya transaksi-transaksi elektronik dalam e-commerce, memberikan tantangan bagi teknologi komunikasi dan informasi. Sebuah sistem pembayaran elektronik yang aman dan efisien menjadi salah satu persyaratan penting agar teknologi komunikasi dan informasi dapat berhasil diterapkan. Namun, salah satu faktor yang ikut mempengaruhi keberhasilan dari suatu sistem pembayaran elektronik adalah masalah “terms and conditions[28] yang  secara eksplisit mengikat para pihak terkait dengan jasa pembayaran itu sendiri. Dalam sistem perdagangan tradisional, sebelum sebuah transaksi diselesaikan, biasanya para pihak menuangkan kesepakatan mengenai hal-hal yang berkaitan dengan transaksi tersebut dalam bentuk perjanjian tertulis. Perjanjian ini umumnya berisi hak dan kewajiban yang harus ditaati oleh para pihak, termasuk penyelesaian sengketa yang terjadi di kemudian hari. Namun, seringkali isi perjanjian tersebut ditafsirkan atau dipahami secara keliru oleh pihak yang menerima perjanjian. Kondisi ini dapat saja terjadi karena transaksi ini melibatkan dua kepentingan hukum yang berbeda. Selain itu, pihak yang lebih kuat seringkali menginginkan agar kontrak yang mereka buat tunduk pada hukum di negara mereka.[29]

II. Sarana Pembayaran

Definisi Sarana Pembayaran

Jual-beli merupakan salah satu kegiatan ekonomi yang telah dilakukan sejak dahulu kala. Dalam sebuah transaksi jual-beli, salah satu pihak berjanji untuk menyerahkan barang dan pihak lainnya berjanji untuk melakukan pembayaran sesuai harga yang disepakati. Pembayaran yang dimaksudkan di sini adalah suatu transfer nilai uang (monetary value) dari satu pihak ke pihak lainnya.[30] Proses pembayaran ini biasanya dilakukan dengan menggunakan sarana-sarana atau instrumen-instrumen pembayaran yang umum diterima.

Sarana atau alat pembayaran memiliki hubungan yang erat dengan suatu  sistem pembayaran. Sebuah sistem pembayaran dapat diartikan sebagai seperangkat komponen yang secara bersama-sama membentuk suatu kesatuan yang diperlukan dalam perpindahan nilai uang dari satu pihak ke pihak lain.[31] Pihak yang dimaksudkan di sini dapat meliputi perorangan, perusahaan maupun bank. Dalam sebuah sistem pembayaran, terdapat komponen-komponen mulai dari alat-alat pembayaran, institusi penyelenggara, infrastruktur, kesepakatan antara pihak-pihak yang terlibat, aturan main, mekanisme operasional sampai dengan perangkat hukum. Agar mekanisme sebuah sistem pembayaran dapat berjalan, paling tidak diperlukan 3 elemen,[32] yaitu sebuah sistem komunikasi yang aman, seperangkat rekening yang menyimpan nilai uang yang ingin ditransfer dan sebuah metode untuk memindahkan nilai dari satu rekening ke rekening lainnya. Metode pemindahan nilai ini sering disebut sebagai sistem kliring dan penyelesaian akhir (clearing and settlement system). 

Uang sebagai Sarana Pembayaran

Uang sebagai sarana pembayaran memiliki sejarah yang panjang dan telah  mengalami perubahan yang sangat besar sejak dikenal manusia pertama kalinya. Kondisi ini membuat para ahli tidak mudah untuk menentukan definisi yang singkat, jelas dan tepat. Uang yang dikenal dalam masyarakat berbeda-beda apabila dilihat dari bentuknya. Oleh sebab itu, sangat sulit untuk mendefinisikan uang berdasarkan bentuk fisik ataupun ciri-cirinya karena bentuk dan ciri-ciri uang bervariasi, tergantung pada waktu dan tempat penggunaannya.[33]

Walaupun sulit untuk menentukan definisi uang yang dapat memuaskan semua pihak, uang diartikan sebagai segala sesuatu yang diterima umum sebagai alat pembayaran untuk barang, jasa dan penyelesaian utang.[34] Untuk lebih jelasnya, pengertian mengenai uang dapat dilihat dari segi fungsinya. Secara umum uang memiliki 4 fungsi, yaitu:[35]

  1. Uang sebagai alat tukar atau sarana pembayaran (medium of exchange)
  2. Uang sebagai alat penyimpan nilai (store of value)
  3. Uang sebagai ukuran pembayaran yang tertunda (standard of deferred payment)
  4. Uang sebagai satuan hitung (unit of account).

Dalam sebuah perdagangan yang masih menggunakan sistem barter atau tukar-menukar, uang memang berfungsi sebagai alat tukar. Namun, dalam konteks perdagangan modern yang menggunakan sarana-sarana yang telah berkembang, seperti kartu kredit, ada baiknya bila menyebutnya sebagai alat/sarana pembayaran (medium of payment).[36] Uang digunakan untuk mendapatkan barang/jasa atau untuk menyelesaikan utang.

Sebagai alat pembayaran, saat  ini uang memiliki peranan yang sangat penting. Tanpa menggunakan uang, transaksi jual-beli barang atau jasa akan sulit terjadi. Untuk melihat bagaimana pentingnya peranan uang dalam masyarakat pada masa sekarang, kita dapat kembali ke masa-masa sebelum manusia mengenal uang. Dalam sebuah kelompok masyarakat yang masih memenuhi kebutuhan sendiri dan hidup berkelompok, uang masih belum dikenal sebagai alat pertukaran barang atau jasa. Pertukaran barang atau jasa dilakukan dengan menggunakan sistem barter. Barter merupakan pertukaran barang atau jasa dengan barang atau jasa lainnya.[37] Namun, cara perdagangan seperti ini memiliki berbagai kekurangan. Untuk memperoleh barang atau jasa yang diinginkan, seseorang harus menemukan pihak lain yang juga menginginkan barang atau jasa yang dimilikinya. Selain itu, pihak lain tersebut bersedia memberikan barang atau jasa yang dimilikinya. Sistem perdagangan barter seperti ini sangat tergantung pada kondisi yang disebut sebagai kebetulan ganda (double coincidence).[38]

Cara perdagangan dengan sistem barter juga menghadapi kesulitan lain karena tidak ada satuan tetap yang digunakan untuk mengukur nilai barang atau jasa yang ditawarkan atau yang diinginkan. Nilai suatu barang harus dinyatakan dalam satuan terhadap barang lainnya, misalnya seekor sapi bernilai sama dengan 10  kambing, 4 babi atau 200 ayam. Cara ini akan sulit dilakukan apabila menginginkan porsi barang yang lebih kecil atau ingin menawarkan barang dalam jumlah banyak sehingga sulit untuk berpindah dari satu tempat ke tempat lain.

Dalam sejarahnya, uang komoditas (commodity money atau full-bodied money) merupakan jenis uang yang paling tua. Disebut uang komoditas (atau uang penuh) karena uang ini memiliki  nilai intrinsik yang dapat digunakan untuk kebutuhan sendiri. Untuk dapat diterima sebagai alat pembayaran, uang komoditas harus memenuhi beberapa karakteristik.[39] Uang tersebut bernilai karena persediaannya terbatas (scarcity). Selain itu, uang komoditas harus kuat (durability) dan dapat dibagi (divisibility) untuk dapat membeli barang-barang yang lebih kecil porsinya. Salah satu bentuk uang komoditi atau uang barang adalah koin yang terbuat dari logam berharga, seperti emas atau perak.

Dengan meningkatnya volume perdagangan dan terbatasnya persediaan komoditas untuk dijadikan sebagai uang, muncul kebutuhan untuk membuat bentuk uang tambahan. Awalnya, digunakan bentuk convertible paper money (atau disebut juga representative money), yang salah satu bentuknya dikeluarkan oleh pembuat barang-barang emas (goldsmith) sebagai tanda terima dari emas yang disimpan dalam safebox mereka. Uang kertas ini dianggap “mewakili” sirkulasi sejumlah komoditas yang sama dengan nilai uang tersebut. Pada abad ke-20, Bank of England mulai mengeluarkan fiat money, yang berbentuk uang kertas dan uang koin. Uang jenis ini tidak dilapisi dengan emas, namun diterbitkan oleh bank untuk memfasilitasi perdagangan.

Evolusi uang dari uang komoditas menjadi uang kertas saat ini sudah berkembang menjadi notational money, yaitu uang yang tercatat dalam bentuk simpanan di bank. Teknologi informasi dan komunikasi yang semakin maju memberikan terobosan dalam perkembangan produk-produk keuangan dan perbankan. Mulai dari munculnya kartu kredit, kartu debet, internet bankingsampai dengan uang elektronik. Munculnya sistem pembayaran elektronik baru ini membawa sebuah konsep uang yang baru.[40] Dari uang yang berbentuk fisik dan uang simbolik, kini berkembang menjadi uang dalam bentuk elektronik yang tidak berwujud (intangible electronic form) yang hanya eksis di duniaonline (cybercash).

Apabila dilihat secara lebih dekat, cybercash ini memiliki desain dan karakteristik yang beragam sehingga sulit untuk memberikan klasifikasi yang tepat. Salah satu cara untuk menggolongkan sistem pembayaran online ini adalah berdasarkan perbedaan antara sistem cybercash berbasis perangkat keras (hardware-based) dan sistem berbasis perangkat lunak (software-based).[41] 

Macam-Macam Sarana Pembayaran

Sebuah sistem pembayaran diartikan sebagai seperangkat komponen yang diperlukan dalam perpindahan nilai uang dari satu pihak ke pihak lainnya. Secara sederhana, sebuah sistem pembayaran dapat dibedakan dari “sesuatu” yang digunakan sebagai uang untuk mentransfer nilai  dalam sebuah transaksi pertukaran barang atau jasa.[42] Oleh sebab itu, sistem pembayaran dapat diklasifikasikan dari sarana atau instrumen pembayaran yang digunakan. Sarana pembayaran ini mencakup penggunaan komoditas/barang sebagai uang, mata uang (currency), cek, atau menggunakan sarana elektronik untuk mentransfer nilai uang.

Fungsi kliring dan penyelesaian akhir (clearing and settlement functions) dalam sebuah sistem pembayaran pada prinsipnya tidak tergantung pada jenis uang yang digunakan untuk melakukan pembayaran.[43] Saat menggunakan uang komoditas atau mata uang dalam sebuah transaksi perdagangan, pembayaran tersebut sudah mencakup sebuah pertukaran nilai, sekaligus kliring dan penyelesaian akhir. Dalam hal ini, uang komoditas maupun mata uang tersebut sudah mewakili sebuah pembayaran yang bersifat final. Artinya, saat uang tersebut ditukar dengan barang/atau jasa, uang tersebut langsung diterima dan siap digunakan untuk transaksi lain.

Dewasa ini, tersedia berbagai macam sarana atau instrumen pembayaran yang dapat digunakan ketika melakukan transaksi perdagangan. Sarana atau instrumen pembayaran ini dapat berupa instrumen tunai[44] (cash) ataupun nontunai (noncash) yang berbasis warkat (paper-based) dan berbasis bukan warkat (nonpaper-based).[45]

Dalam sebuah transaksi jual-beli barang yang jumlahnya relatif tidak besar, biasanya konsumen, baik dari kalangan bisnis maupun individual, umumnya membayar dengan sarana atau instrumen, seperti uang tunai, pembayaran dari sebuah checking account dengan menggunakan cek, kartu debet ataupun kartu kredit.

Sistem pembayaran yang digunakan memang berbeda-beda untuk setiap negara, tergantung pada tingkat perkembangan negara dan sistem perbankan masing-masing. Seiring dengan meningkatnya transaksi volume perdagangan serta adanya kebutuhan akan sebuah sistem pembayaran yang efisien, penggunaan sarana pembayaran berkembang dengan pesat, terutama untuk instrumen pembayaran nontunai. Di Indonesia sendiri, instrumen pembayaran nontunai biasanya disediakan oleh sistem perbankan.

Masing-masing sarana atau instrumen pembayaran ini dapat dibedakan berdasarkan karakteristik-karakteristik tertentu. Menurut Sheppard (1996),[46]sarana atau instrumen pembayaran mempunyai tiga karakteristik utama, yaitu bentuk fisik, sistem pengamanan dan basis pembayaran. Berdasarkan fisiknya, sarana atau instrumen dalam sistem pembayaran dapat berupa:

  • warkat atau dokumen, seperti cek, bilyet giro, nota debet, nota kredit, dan sebagainya;
  • kartu, seperti kartu kredit, kartu debet, kartu ATM, smart card dan sebagainya; atau
  • tanpa fisik melalui internet atau telepon.

Dari sisi sistem keamanannya, sarana atau instrumen pembayaran dapat berupa benang pengaman atau tanda air untuk instrumen uang tunai, nomor seri atau tanda tangan pemilik rekening untuk instrumen berbasis warkat, kode ‘PIN’ (Personal Identification Number) pemilik rekening untuk instrumen kartu ataupun sistem pengaman kata kunci (password) untuk instrumen pembayaran melalui Internet atau telepon. Sementara, berdasarkan basis pembayarannya, instrumen pembayaran dapat dibedakan antara berbasis debet (debit-based) atau berbasis kredit (credit-based).

A. Pembayaran dengan Uang Tunai (Cash Payment)

Pembayaran dengan uang tunai masih merupakan salah satu bentuk transfer uang yang paling populer saat ini. Di Indonesia sendiri, mayoritas masyarakatnya masih lebih menyukai penggunaan uang tunai sebagai sarana pembayaran barang dan jasa sehari-hari, bahkan untuk transaksi bernilai tinggi khususnya di kota kecil atau wilayah yang jauh dari kota besar.[47] Uang tunai memiliki karakteristik yang unik karena nilainya tidak tersimpan dalam sebuah rekening di bank. Uang ini lebih berfungsi untuk sirkulasi dan ditetapkan oleh undang-undang sebagai alat pembayaran utang yang sah (legal tender). Dalam sebuah transaksi tunai, pembayaran dan transfer nilai dilakukan secara bersamaan, berbeda dengan cek yang hanya merupakan perintah untuk mentransfer uang dari satu rekening ke rekening lain. Pembayaran tunai menjadi bentuk yang paling sederhana dan paling efektif dibandingkan dengan alternatif pembayaran lainnya. Uang kertas dapat dibawa dalam jumlah besar dalam dompet kecil maupun dalam tas. Selain itu, tidak ada biaya tambahan saat transaksi pembayaran dilakukan. Karakteristik ini sangat cocok untuk pembayaran dalam nilai yang kecil dan transaksi pembayaran bersifat anonim. Namun, walaupun transaksi tunai tidak membutuhkan biaya tambahan, penerbitan uang jenis ini membutuhkan biaya yang besar. Dalam prakteknya, uang kertas yang rusak harus diganti dengan yang baru. Walaupun demikian, pembayaran tunai masih menjadi sarana yang paling banyak digunakan. Salah satu faktor yang membuat pembayaran tunai tetap diminati adalah tersedianya layanan ATM sehingga nasabah tetap dapat memperoleh uang tunai dengan cara yang mudah.

B. Pembayaran melalui Bank

Dengan semakin meningkatnya jumlah uang dibutuhkan dan untuk menghindari risiko-risiko keamanan, kebanyakan orang mulai beralih menyimpan kekayaannya dengan menggunakan jasa layanan dari institusi keuangan, seperti bank. Apabila dua pihak yang melakukan transaksi jual-beli menyimpan uangnya di bank dan oleh sebab itu, keduanya memiliki sebuah rekening bank, maka salah satu pihak tidak perlu lagi menarik uang tunai untuk melakukan pembayaran ke pihak lain. Pembayaran dapat dilakukan, misalnya dengan membuatkan sebuah cek, yaitu perintah kepada bank untuk membayar sejumlah uang tertentu kepada penerima  tertentu.

Di Indonesia, peranan bank sebagai sarana pembayaran merupakan salah satu fungsi dari bank umum, yaitu memindahkan uang baik untuk kepentingan sendiri maupun untuk kepentingan nasabahnya.[48] Produk-produk bank yang dapat dijadikan sebagai sarana pembayaran pun bermacam-macam. Umumnya, seorang nasabah bank melakukan pembayaran dengan menggunakan cek, bilyet giro, atau menginstruksikan bank untuk melakukan transfer dana atau pemindahbukuan, baik ke rekening nasabah pada bank yang sama atau pada bank yang berbeda.

1. Pembayaran dengan Cek (Check/Cheque)

Cek pada prinsipnya merupakan sebuah otorisasi perintah bagi pihak bank untuk melakukan transfer dana sejumlah tertentu dari sebuah rekening ke rekening lainnya atau menyerahkan sejumlah uang tunai dari rekening penarik cek kepada penerima cek tersebut. Menurut Kitab Undang-Undang Hukum Dagang (KUHD), sebuah cek  berisi perintah yang tidak bersyarat untuk membayar sejumlah uang tertentu yang dapat diberikan kepada seseorang yang namanya disebutkan (cek atas nama) atau kepada pembawa cek (cek atas unjuk) tersebut. Mekanisme pembayaran ini dimulai dengan memberikan cek atas jumlah tertentu kepada penerima atau penjual. Selanjutnya, penerima atau penjual menyerahkan cek tersebut kepada bank penarik cek untuk diuangkan. Oleh karena itu, cek dianggap sebagai alat pembayaran tunai, sama seperti uang tunai (cash). Cek hanya dapat dikeluarkan apabila dananya sudah tersedia, seperti yang berlaku di Perancis. Di Indonesia, berdasarkan Pasal 190a KUHD, dana penarikan cek harus sudah tersedia pada hari bayar.

Selain dapat ditarik tunai, dana yang tertera dalam cek juga dapat dikirim ke rekening bank si penerima. Apabila para pihak yang bertransaksi memiliki rekening pada bank yang berbeda, proses pembayaran dengan cek memang lebih panjang. Sebagai contoh, A dan B melakukan transaksi jual-beli. Mekanisme pembayaran dimulai ketika A memberikan sebuah cek kepada B sebagai pembayarannya. B kemudian menyerahkan cek tersebut kepada banknya (disebut collecting bank) yang akan menagih dana tersebut atas namanya. Biasanya, rekening bank B akan segera dikredit. Bagian kliring bank B kemudian mengirimkan cek tersebut ke lembaga kliring (clearing house), tempat bank-bank melakukan tukar-menukar cek Cek tersebut akan diberikan ke bank A yang kemudian akan memverifikasi apakah dana yang tersedia dapat membayar cek tersebut. Apabila cukup, rekening A akan didebet sejumlah yang tertera dalam cek. Bank sebagai anggota lembaga kliring akan menghitung berapa jumlah utang-piutang mereka terhadap bank-bank lain secara  keseluruhan. Proses ini biasanya diorganisir oleh bank sentral.

Apabila dana tidak mencukupi, tanda tangan pada cek tidak sesuai dengan sample atau kesalahan lain, cek akan dikembalikan ke collecting bankbeserta alasannya pengembaliannya. Oleh karena sebuah cek dapat dikembalikan terkait dengan dana yang tidak mencukupi, pembayaran dengan cek baru dapat dikatakan final apabila cek sudah dikliring. Selain pembayaran dengan cek dikenakan biaya tambahan, waktu yang diperlukan untuk mencairkan cek juga relatif lama.

2. Pembayaran dengan Giro atau Credit Transfer

Giro atau credit transfer merupakan sarana pembayaran yang memungkinkan seseorang untuk melakukan pembayaran dan menerima pembayaran dengan menggunakan sebuah rekening bank, baik antara bank yang sama (intrabank transfer) maupun antara bank yang berbeda (interbank transfer). Giro merupakan sarana pembayaran yang sangat populer di Eropa. Sarana pembayaran ini sudah eksis sejak pertengahan abad ke-20, walaupun lebih banyak ditawarkan oleh kantor pos. Istilah “giro” berasal dari bahasa Yunani yang berarti aliran dana dalam sebuah sirkulasi. Sama seperti cek, giro merupakan sebuah instruksi dari pembayar kepada banknya untuk mentransfer sejumlah dana  ke rekening bank si penerima. Apabila A ingin melakukan pembayaran dengan giro kepada B, mekanisme pembayarannya dimulai saat A menginstruksikan banknya untuk mentransfer dana ke rekening Bank B. Transaksi giro ini hanya dapat dilakukan apabila A memiliki dana yang cukup di rekeningnya. Kemudian, Bank A mendebet rekening A dan mengirim giro untuk dikliring di lembaga kliring. Dana tersebut kemudian dikreditkan ke rekening Bank B.

Berbeda dengan cek, mekanisme pembayaran dengan giro tidak memerlukan verifikasi dengan mengirimkan dokumen atau warkat sehingga prosesnya lebih banyak dilakukan secara elektronik seperti yang umum dilakukan di Amerika Serikat, sehingga dikategorikan sebagai pembayaran berbasis bukan-warkat.

Di Indonesia, terdapat perbedaan mengenai istilah giro dan sering dipertukarkan dengan sarana pembayaran bilyet giro. Giro[49] merupakan salah satu bentuk simpanan dana pihak ketiga yang dikelola oleh Bank Umum dalam rangka menghimpun dana dari masyarakat.[50] Sementara, bilyet giro pada dasarnya merupakan surat perintah dari nasabah kepada bank penyimpan dana untuk memindahbukukan (tidak untuk ditarik tunai) sejumlah dana dari rekening yang bersangkutan kepada rekening pemegang yang disebutkan namanya.[51] Berdasarkan Pasal 1 angka 6 UU Perbankan, simpanan dalam bentuk giro atau rekening koran (demand deposit/checking account) dapat dilakukan setiap saat dengan menggunakan warkat perintah pembayaran seperti cek, bilyet giro, sarana perintah pembayaran lainnya atau dengan pemindahbukuan. Jadi, simpanan dalam bentuk giro dapat digunakan sebagai alat pembayaran dengan beberapa cara, antara lain dengan menggunakan warkat pembayaran cek atau bilyet giro ataupun dengan melakukan pemindahbukuan belaka. Mekanisme pembayaran dengan bilyet giro di Indonesia sama dengan mekanisme pembayaran dengan cek. Perbedaannya, bilyet giro tidak dapat ditarik tunai, melainkan harus dikirim melalui rekening bank, seperti yang dijelaskan dalam mekanisme pembayaran dengan giro.

Selain penarikan atau pembayaran dengan menggunakan cek dan bilyet giro, pemilik rekening giro juga dapat memberikan surat perintah pemindahbukuan atau surat perintah pembayaran melalui warkat berupa nota debet dan nota kredit, terutama untuk giro dalam bentuk valuta asing.

3. Pembayaran melalui Automated Clearing House (ACH)

Automated Clearing House (ACH) atau lembaga kliring merupakan lembaga yang menyelenggarakan kliring antarbank secara elektronik, otomasi, semiotomasi, atau manual untuk pesertanya yang pada umumnya adalah bank umum.[52] Instruksi pembayaran atau warkat yang dikliringkan dapat berupa cek, bilyet giro, nota kredit atau debet dan warkat penerimaan atau pengiriman transfer. Pembayaran melalui ACH biasanya dilakukan untuk jumlah pembayaran yang besar atau pembayaran berkala, seperti pembayaran gaji pegawai atau tagihan bulanan seperti listrik dan telepon.

ACH mulai berkembang seiring dengan meningkatkan transaksi pembayaran berbasis warkat (cek dan giro).[53] Bank mulai berusaha untuk mengotomatisasikan proses pembayaran sehingga pembayaran lebih mudah dilakukan. Pada tahun 1968, sebuah kelompok bankir di California, membentukSpecial Committee on Paperless Entries (SCOPE) yang kemudian membentuk California Clearing House Association pada tahun 1972, sebuah lembaga ACH pertama di Amerika Serikat. Sementara, di Inggris, lembaga ACH terbentuk pada tahun 1968 yang kemudian bergabung pada tahun 1971 menjadi Bankers Automated Clearing Service (BACS).

Pembayaran melalui ACH pada dasarnya hampir sama dengan paper-clearing, namun instruksi pembayaran diproses dalam bentuk elektronik. Pada awal perkembangan ACH, bank harus mempersiapkan sebuah kaset magnetis khusus yang berisi rekaman transaksi pembayaran dan kemudian dikirim ke ACH untuk diproses. Saat ini, proses pembayaran sudah digantikan dengan transaksi yang bersifat real-time dan dikirim secara elektronik melalui jalur telekomunikasi.

Mekanisme pembayaran dimulai dengan mengirimkan informasi pembayaran dalam sebuah berkas ACH ke Originating Depository Financial Institution (ODFI), yang dalam hal ini adalah bank pihak pembayar (1). Kemudian, ODFI akan memverifikasi berkas tersebut dan meneruskan informasi pembayaran tersebut ke lembaga yang menjadi operator ACH (2). Operator ACH lalu meneruskan transaksi tersebut ke bank pihak penerima, yang disebut Receiving Depository Financial Institution (3). Bank akan mengkredit dana ke rekening penerima dan mendebet rekening pihak pembayar (4). Terakhir, operator ACH melakukan setelmen antara bank peserta (5). Apabila operator ACH adalah Bank Sentral, maka setelmen langsung dilakukan terhadap rekening bank peserta di Bank Sentral.

4. Pembayaran melalui Wire Transfer

Secara umum, wire transfer diartikan sebagai transfer uang dari satu rekening ke rekening lain melalui telegraph.[54] Biasanya, sarana pembayaran ini digunakan oleh perusahaan dan pemerintah. Dibandingkan dengan metode pembayaran ACH, jumlah pembayaran melalui wire transfer biasanya lebih besar sehingga membutuhkan prosedur-prosedur keamanan lebih lanjut. Selain itu, biaya pengiriman melalui wire transfer pun lebih mahal dibandingkan dengan pembayaran melalui ACH.

C. Pembayaran Kartu (Card Payment)

Konsep pembayaran dengan menggunakan kartu pertama kali muncul pada tahun 1915 ketika sejumlah hotel dan department store mulai mengeluarkan apa yang disebut dengan “shoppers plates”. Kemudian, pada tahun 1947, Flatbush National Bank menerbitkan kartu untuk pelanggan lokal mereka. Pada tahun 1950, langkah ini  diikuti oleh Diners Club yang merupakan “travel & entertainment” atau charge card pertama dan 8 tahun kemudian muncul American Express Card. Dalam perjalanannya, hanya dua penerbit kartu besar yang memiliki jaringan bank yang besar dan dominan, yaitu Visa International dan MasterCard[55].

Kartu kredit dirancang untuk digunakan sebagai pembayaran dalam transaksi retail.[56] Pembayaran dilakukan oleh pemegang kartu padamerchant yang sudah tercatat untuk menerima pembayaran menggunakan kartu. Perusahaan kartu tidak berhubungan dengan pemegang kartu ataumerchant. Biasanya, organisasi anggota jaringan (biasanya bank) yang melakukan ini untuk mereka.

Bank yang menerbitkan kartu kepada pelanggannya disebut bank penerbit kartu (card issuing bank). Bank ini akan mencatat pemilik kartu, mengeluarkan kartu yang menggunakan logo asosiasi kartu, dan mengoperasikan rekening kartu yang digunakan untuk pembayaran.

Transaksi yang dilakukan dengan menggunakan kartu kredit melibatkan berbagai pihak yang saling berkepentingan, yang masing-masing terikat dengan suatu perjanjian. Dalam mekanisme penggunaan kartu kredit, terdapat sedikitnya tiga pihak yang terlibat langsung untuk setiap transaksi penggunaan dan pembayaran kartu kredit. Pihak-pihak dimaksud adalah bank/lembaga pembiayaan, pedagang (merchant)  pemegang kartu (card holder).[57]

Fungsi bank/lembaga pembiayaan adalah sebagai pihak penerbit dan atau pihak pembayar kartu kredit yang ditagihkan oleh pedagang. Pedagang adalah tempat belanja bagi pemegang kartu yang telah mengikat perjanjian dengan bank/lembaga pembiayaan. Sementara, pemegang kartu adalah nasabah yang namanya tertera dalam kartu kredit sekaligus pihak yang menggunakan kartu tersebut.

Merchant yang ingin menerima pembayaran juga harus terdaftar dengan bank. Dalam hal ini, bank disebut sebagai acquiring bank atau acquirer saja. Dalam pembayaran kartu kredit berbasis kertas (paper-based credit card payment), merchant menyiapkan voucher penjualan yang berisi nomor kartu pembayar, jumlah pembayaran, tanggal dan deskripsi barang. Traksaksi dapat dilakukan dengan atau tanpa otorisasi terlebih dahulu, tergantung kebijakannya.Merchant akan membawa voucher penjualan ini ke acquiring bank yang nantinya akan melakukan kliring yang dioperasikan oleh asosiasi kartu. Rekening pedagang (merchant) kemudian dikredit, pemegang kartu didebet dan detail transaksi akan muncul dalam monthly statement pemilik rekening. Dalam perjalanannya, asosiasi kartu dan bank anggotanya mulai menghapuskan transaksi berbasis kertas. Informasi semuanya berlangsung secara elektronik.[58] Untuk transaksi tersebut, merchant biasanya membayar sejumlah persentase tertentu dari nilai transaksi yang nantinya akan dibagi antara acquiring bank dan card association. Disebut kartu kredit karenabalance yang terutang pada rekening pemegang kartu tidak harus dibayar pada akhir setiap bulan. Pemegang kartu dapat membayar bunga padaoutstanding balance dan menggunakan kartu untuk kredit.

Apabila balance harus dibayar penuh pada akhir periode tertentu, maka jenis kartu tersebut disebut charge card. Kartu pembayar lainnya dapat berupadebit card, yang dihubungkan dengan rekening bank biasa dan transaksi akan diproses secara realtime. Artinya, pada saat transaksi dilakukan, jumlahnya akan ditransfer dari rekening nasabah pembeli ke rekening bank penjual. Kartu debet juga dapat berfungsi sekaligus sebagai kartu ATM. Dengan kartu ATM ini, pemegang kartu dapat melakukan transaksi seperti penarikan tunai, pembayaran listrik atau telepon, transfer uang serta transaksi lain yang berhubungan dengan rekening pemegang kartu, seperti mengecek saldo rekening. Transaksi-transaksi ini dapat dilakukan melalui mesin ATM yang biasanya dioperasikan selama 24 jam untuk melayani kebutuhan nasabah bank yang bersangkutan.

Satu cara pembayaran final menggunakan kartu adalah kartu yang memiliki kapasitas penyimpanan yang dapat diisi dengan cash dari rekening bank pemilik kartu. Kartu seperti ini disebut electronic purse.

III. Sarana Pembayaran Elektronik

Definisi Pembayaran Elektronik (Electronic Payment)

Electronic commerce (e-commerce) atau electronic business (e-business) memiliki cakupan yang cukup luas karena melibatkan semua sarana telekomunikasi. Namun, dalam perkembangannya, istilah e-commerce lebih didasarkan pada perspektif online dari sebuah transaksi bisnis yang dilakukan.[59] Dari perspektif ini, dapat dikatakan bahwa e-commercemenawarkan mekanisme jual-beli produk, informasi dan jasa melalui Internet dan teknologi online lainnya. Dalam sebuah transaksi jual-beli yang dilakukan melalui Internet, pembayaran dilakukan dengan menggunakan uang dalam bentuk elektronik. Mekanisme pembayaran seperti ini dikenal sebagaielectronic payment atau e-payment. Prinsipnya, e-payment mencakup semua pembayaran yang dilakukan, diproses dan diterima secara elektronik.[60]

Klasifikasi Pembayaran Elektronik

Sistem pembayaran elektronik merupakan bagian yang tidak terpisahkan dan aspek yang paling kritis dalam e-commerce. Sistem pembayaran ini akan memfasilitasi tahapan penting setelah konsumen memutuskan untuk membeli produk atau jasa dengan cara yang efisien, efektif dan bebas masalah. Kebutuhan akan sebuah sistem pembayaran yang dilakukan secara online (Electronic Payment System), lebih disebabkan oleh kekurangan atau kelemahan yang dimiliki oleh sistem pembayaran yang sudah ada sebelumnya. Salah satu faktor yang menjadi melatarbelakangi dikembangkannya sistem pembayaran elektronik adalah efisiensi biaya.[61]Sebagai contoh, penggunaan kartu kredit untuk transaksi retail membutuhkan biaya yang besar karena aplikasinya cukup kompleks dan mengharuskan penggunanya untuk memasukkan berbagai informasi. Selain dari sisi keamanan dan kepercayaan, kartu kredit juga tidak cocok untuk transaksi bernilai kecil, seperti yang sering terjadi pada model bisnis C2C.

Oleh sebab sistem pembayaran elektronik berkaitan erat dengan e-commerce, sistem pembayaran ini juga dapat dibedakan berdasarkan model bisnis e-commerce itu sendiri.

Walaupun saat ini terdapat berbagai macam sarana pembayaran elektronik dengan karakteristik masing-masing, sarana pembayaran ini dapat diklasifikasikan dari beberapa sudut pandang sebagai berikut:[62]

  • Dilihat dari nilai/jumlah pembayaran, pembayaran elektronik terbagi dalam  3 penggolongan, yaitu picopayment (sampai dengan 1 Euro),micropayment (1-10 Euro), dan macropayment untuk nilai yang lebih besar. Di sini, penting untuk dicatat bahwa semakin besar nilai pembayaran, maka semakin besar tingkat keamanannya.
  • Dilihat dari waktu pembayaran, pembayaran elektronik dapat dibedakan atas Pre-PaidPay-Now, dan Pay-Later. Dibandingkan dengan cara-cara pembayaran non elektronik, konsep Pre-Paid di sini dapat disamakan dengan konsep uang muka, Cash on Delivery (CoD) untukPay-Now, dan invoice untuk Pay-Later.
  • Dilihat dari konsep teknologi yang digunakan, yaitu apakah menggunakan sistem  rekening yang tersimpan pada bank/institusi nonbank atau   sejenis penyimpanan uang elektronik dalam bentuk virtual money dalamsoftware atau hardware.
  • Dilihat dari anonimitas transaksi. Pada pembayaran non-elektronik, apabila seseorang membayar dengan uang tunai, maka transaksi dapat disebut transaksi anonim. Sebaliknya, pada pembayaran dengan menggunakan kartu kredit, transaksi tidak dapat anonim karena penjual mengetahui nama pembeli. Pembayaran elektronik juga dapat digolongkan sebagai anonim atau tidak.

Teknologi pembayaran elektronik pada hakekatnya tidak saja dapat menggantikan  fungsi sebuah cek (electronic check), melainkan juga fungsi uang tunai, dalam bentuk electronic money atau e-money, yaitu uang dalam bentuk elektronik.[63] Dengan electronic check,[64] pemilik rekening memberikan otorisasi kepada bank untuk mengirim dana dari rekening pembayar ke penerima.

Sarana pembayaran elektronik tidak dapat dipisahkan dari perkembangan teknologi informasi dan komunikasi itu sendiri. Seperti yang telah diuraikan  sebelumnya bahwa konsep pembayaran elektronik bukanlah sebuah metode pembayaran yang baru dan sudah lama digunakan dalam transaksi perdagangan. Sebelum Internet berkembang pesat, sudah banyak perusahaan yang menggunakan sarana pembayaran elektronik yang dikenal, seperti wire transfer atau FEDI.[65]

Berbagai pihak, mulai dari institusi keuangan bank/non-bank, asosiasi kartu kredit  serta produsen software kemudian berusaha untuk  mengembangkan sistem pembayaran baru. Secara umum, sistem pembayaran elektronik baru ini meliputi dua jenis mekanisme pembayaran,[66] yaitu:

  • Prepaid stored –value card; dan
  • Pembayaran online yang dilakukan melalui Internet dan jaringan komputer lainnya.

Saat ini, sistem pembayaran online yang dilakukan melalui Internet banyak digunakan sebagai pembayaran untuk transaksi retail (personal payment). Semua sistem pembayaran ini menggunakan World Wide Webuntuk mengirim informasi pembayaran. Untuk dapat melakukan pembayaran, seseorang harus memiliki sebuah rekening. Apabila dilihat dari tipe rekeningnya, maka pembayaran online melalui Internet dapat dibedakan antara pembayaran melalui sebuah proprietary account system atau melalui bank account-based system.[67]

Pada proprietary account system, dana ditransfer dari sebuah special-purpose account ke special-purpose account lain yang dikelola oleh provider non-bank. Sementara, pada sebuah bank account-based system, dana ditransfer antara demand deposit account yang dikelola oleh bank. Layanan yang ditawarkan oleh institusi bank ini sering dikenal sebagai electronic banking melalui Internet. Di Indonesia, layanan ini telah disediakan sejumlah bank besar sejak pertengahan 1999.[68] Penggunaan instrumen berbasis internet untuk melakukan transaksi, selain memerlukan verifikasi pengaman seperti PIN dan password, juga memerlukan komputer pribadi (PC). Penggunaan komputer tersebut dapat dilakukan tanpa dan dengan proprietary software yang dipasang oleh bank pada PC nasabah. Apabila pembayar dan penerima sama-sama memiliki rekening pada bank yang sama, proses pengiriman dana antar-rekening akan menjadi lebih mudah. Pembayar hanya perlu terhubung ke bank dan menginformasikan pihak bank untuk memindahkan sejumlah dana tertentu dari rekening pembayar ke rekening penerima. Bank hanya perlu mengurangi jumlah dana tersebut dari satu rekening dan menambahkannya ke rekening lain, tanpa harus melakukan kliring.

Jasa pembayaran online berbasis proprietary account system(centralized account) yang dikelola oleh lembaga nonbank sudah cukup populer dan kompetitif, seperti PayPal, E-Gold, Yahoo! PayDirect atau Google CashOut. Umumnya, layanan pembayaran ini berbasis pada kartu kredit sehingga metode pembayarannya  dikatagorikan sebagai electronic credit card (e-credit). Namun, dalam perkembangannya, jasa-jasa pembayaran online tidak hanya berbasis kartu kredit, namun juga mendukung  kartu pembayaran lainnya, seperti kartu debet.

PayPal (http://www.paypal.com) merupakan salah satu penyedia jasa pembayaran online terbesar[69] yang mencakup pembayaran Person-to-Person (PtP). Artinya, selain untuk melakukan pembayaran atas pembelian barang, PayPal juga dapat digunakan untuk mengirim uang ke pengguna PayPal yang lain. Dengan memiliki rekening di PayPal, pengguna dapat mengirim dana yang diambil dari kartu kredit atau kartu debet ke pengguna lain dengan biaya yang murah. Pengirim hanya perlu mengetahui alamat e-mail dari penerima. Setelah menerima dana tersebut, penerima dapat menarik dana tersebut ke rekening bank tertentu untuk nantinya ditarik tunai. Dibandingkan dengan yang lain, PayPal memiliki beberapa kelebihan. Selain biaya transaksi yang bersaing, PayPal cukup mudah diintegrasikan ke dalam Website sebagai sebuah payment processor. Penjual tidak perlu lagi menerapkan sistem pemprosesan kartu kredit (credit card processing) karena semuanya dilakukan oleh PayPal.

Terkait dengan sarana pembayaran, terdapat perbedaan antara layanan perantara pembayaran (payment mediation service) dan sistem pembayaran (payment system) itu sendiri, terutama dalam konteks mekanisme pembayaran elektronik dan pembayaran Internet. Layanan perantara pembayaran muncul sebagai respons terhadap kekurangan dan ketidakefisiensian dari sistem pembayaran untuk Internet saat ini. Layanan ini memperluas sistem yang sudah ada dan berfungsi sebagai perantara antara merchant, sistem pembayaran dan user. Tujuannya untuk membantu merchant dalam menerima sebanyak mungkin sistem pembayaran yang diinginkan oleh user saat mereka ingin melakukan pembayaran melalui Internet.[70]

Pengaturan Sistem Pembayaran di Indonesia

Berdasarkan Pasal 1 angka 6 UU Bank Indonesia,[71] pengertian sistem pembayaran adalah suatu sistem yang mencakup seperangkat aturan, lembaga dan mekanisme, yang digunakan untuk melaksanakan pemindahan dana guna memenuhi suatu kewajiban yang timbul dari suatu kegiatan ekonomi. Berkaitan dengan pengertian ini, terdapat dua unsur pokok dalam suatu sistem pembayaran, yaitu: [72]

  • keseluruhan ketentuan yang mengatur bagaimana sistem pembayaran dilaksanakan;
  • proses pelaksanaan serta bagian-bagian dalam proses pelaksanaan di dalam sistem pembayaran.

Menurut Sheppard (1996),[73] suatu sistem pembayaran pada umumnya memiliki tiga elemen utama, yaitu:

  • otorisasi pelaksanaan pembayaran, artinya pihak pembayar memberikan otorisasi kepada banknya untuk melakukan transfer dana;
  • kliring, yaitu pertukaran perintah pembayaran antarbank yang terlibat dalam transaksi pembayaran;
  • setelmen antarbank yang terlibat, yaitu bank pembayar harus membayar bank penerima, baik bilateral maupun melalui rekening yang dimiliki bank-bank tersebut pada lembaga penyelenggaraan kliring, yang umumnya adalah bank sentral.

Aturan pokok yang menjadi dasar sistem pembayaran di Indonesia adalah KUHPerdata, KUHD, UU Perbankan, dan UU Bank Indonesia.[74] KUHPerdata, antara lain, mengatur aspek hukum perjanjian yang menjadi dasar dalam setiap transaksi  pembayaran, sedangkan KUHD menetapkan berbagai ketentuan tentang warkat pembayaran, misalnya cek, promes, wesel aksep, dan instrumen pembayaran lainnya. UU Bank Indonesia dalam hal ini menjadi landasan hukum  bagi Bank Indonesia sebagai lembaga yang berwenang untuk mengatur dan menjaga kelancaran sistem pembayaran. Dalam melaksanakan wewenangnya, Bank Indonesia mengeluarkan berbagai ketentuan yang diatur dalam Peraturan Bank Indonesia (PBI). Terkait dengan penyelenggaraan sistem pembayaran, Bank Indonesia  mengeluarkan Peraturan Bank Indonesia No. 8/28/PBI/2006 tanggal 5 Desember 2006 tentang Kegiatan Usaha Pengiriman Uang.

Pengiriman uang pada dasarnya merupakan kegiatan transfer dana. Pengiriman uang adalah kegiatan yang dilakukan penyelenggara pengiriman uang untuk melaksanakan perintah tidak bersyarat dari pengirim kepada penyelenggara pengiriman uang untuk mengirim uang kepada penerima. Menurut Pasal 4 PBI No. 8/28/PBI/2006, penyelenggaraan pengiriman uang dapat dilakukan oleh perorangan warga negara Indonesia (WNI), badan usaha berbadan hukum, dan badan usaha tidak berbadan hukum di Indonesia yang dimiliki oleh WNI/badan usaha lainnya. Sementara, cakupan kegiatan penyelenggaraan pengiriman uang tersebut ditentukan dalam Pasal 2 ayat (1) No. 8/28/PBI/2006, yaitu pengiriman dari luar wilayah RI ke dalam wilayah RI (dalam bentuk non-tunai), pengiriman dari dalam wilayah RI ke luar wilayah RI (dalam bentuk non-tunai) dan pengiriman uang dalam wilayah RI (dalam bentuk tunai dan non-tunai).

Menurut Pasal 6 No. 8/28/PBI/2006, untuk dapat menyelenggarakan kegiatan usaha pengiriman uang, penyelenggara wajib memperoleh izin dari Bank Indonesia. Selanjutnya, dalam menjalankan kegiatan usaha pengiriman uang,  Pasal 14 No. 8/28/PBI/2006 mewajibkan penyelenggara untuk melakukan hal-hal sebagai berikut:

  • melakukan pencatatan transaksi pengiriman uang;
  • menyampaikan laporan secara berkala maupun insidentil kepada Bank Indonesia;
  • menyampaikan laporan secara tertulis kepada Bank Indonesia apabila terjadi perubahan pengurus;
  • menjamin bahwa uang yang dikirimkan  disampaikan dan diterima dalam waktu yang telah disepakati;
  • memberikan informasi kepada pengirim terkait dengan pengiriman uang yang bersangkutan;
  • menyimpan dokumen-dokumen yang terkait;
  • melaporkan transaksi yang mencurigakan kepada lembaga yang berwenang.

[1] Charles W. L. Hill, Global Business Today, 2nd ed. (New York: McGraw-Hill, 2003), hlm. 4.

[2] United Nations Conference on Trade and Development, Information Economy Report 2007-2008. Science and Technology for Development: The New Paradigm of ICT (New York: United Nations Publications, 2007), hlm. 221.

[3] Hill, op. cit., hlm. 8.

[4] Perkembangan teknologi ditandai dengan adanya konvergensi antara teknologi telekomunikasi dan komputer yan dikenal dengan istilah Information and Communication Technology, disingkat ICT.

[5] Internet atau disingkat Net merupakan sekumpulan komputer yang saling terkoneksi yang menggunakan hardware dan software jaringan untuk mengirim dan menerima data. Internet membentuk jaringan global dari komputer dan server yang saling terkoneksi dan dapat diakses oleh publik. Lihat Francais Botto, Dictionary of E-BusinessA Definitive Guide to Technology and Business Terms, 2nd Ed. (West Sussex: John Wiley & Sons, 2003), hlm. 357.

[6] Ibid., hlm. 11.

[7] Hossein Bidgoli, ed., The Internet Encyclopedia, Vol. 2 G-O (California: John Wiley & Sons, Inc., 2003), hlm. 41.

[8] “The World in 2008.” The Economist, edisi ke-22 (1 Nov 2007): 124, juga dapat diakses melalui alamat http://www.economist.com/theworldin/forecasts/COUNTRY_PAGES_ 2008.pdf.

[9] Bidgoli, loc. cit., hlm. 38.

[10] Jack W. Plunkett, Plunkett’s E-Commerce & Internet Business Almanac 2008: E-Commerce and Internet Business Industry Market Research, Statistics, Trends and Leading Companies (Plunkett Research, Ltd., 2008), juga dapat diakses secara online melalui alamat http://www.plunkettresearch.com.

[11] Steve Elliot, Electronic Commerce. B2C Strategies and Models (West Sussex: John Wiley & Sons Ltd: 2002), hlm. 3.

[12] Marilyn Greenstein dan Todd M. Feinman, Electronic Commerce: Security, Risk Management and Control (New York: McGraw-Hill, 2000), hlm. 2.

[13] David Whiteley, e-Commerce. Strategy, Technologies and Application, ed. ke-1 (London: McGraw-Hill, 2000), hlm. 5.

[14] Greenstein dan Feinman, loc. cit.

[15] Hill, op. cit., hlm. 12.

[16] Jeffrey F. Rayport dan Bernard J. Jaworsky, e-Commerce, ed. ke-1, New York: McGraw-Hill, 2001, hlm 3.

[17] Andrew C.L. Ong, Your Guide to E-Commerce in Singapore (Singapore: Drew & Napier, 2000), hlm. 2

[18] Richard T. Watson, et al., Electronic Commerce. The Srategic Perpective (Orlando: The Dryden Press, 2000), hlm. 34.

[19] Paul Benjamin Lowry, et al., “Online Payment Gateways Used to Facilitate E-Commerce Transactions and Improve Risk Management, Communications of the Association for Information Systems (CAIS), Vol. 17, No. 6, 2005:1-48 <http://ssrn.com/abstract=879797&gt;. Diakses 21 Agustus 2008.

[20] Robert Guttmann, Cybercash. The Coming Era of Electronic Money (New York: Palgrave Macmillan, 2003), hlm. 9.

[21] Paul Benjamin Lowry, J. Owen Cherrington, dan Ronald R. Watson, ed., The E-Business Handbook (Florida: St. Lucie Press, 2002), hlm. 543. Istilah retail menurut Dictionary of Economicsterbitan A&C Black merupakan penjualan barang dalam jumlah kecil kepada konsumen kebanyakan.

[22] PayPal menjadi anak perusahaan eBay sejak Oktober 2002.

[23] Damon Williams, Pro PayPal E-Commerce (California: Apress, 2007), hlm. 13.

[24] Lihat https://www.paypal-media.com/aboutus.cfm, diakses tanggal 21 Agustus 2008.

[25] Lihat “E-Payments To Become Mega-Market”, <http://www.boozallen.com/consulting/ industries_article/7969275>. Menurut Booz Allen Hamilton, PayPal termasuk dua besar pemain dalam pasar e-payment, diakses tanggal 21 Agustus 2008.

[27] Sam Edwards, “Doing International Business Online for the Small and Medium Enterprise,”Cyberlaw for Global E-business: Finance, Payment, and Dispute Resolution, ed. Takashi Kubota (Idea Group Inc, 2007), hlm. 196.

[28] Martin Reichenbach, “New Challenges in Electronic Payments,” Intelligent Enterprises of the 21st Century, ed. Jatinder N.D. Gupta dan Sushil K. Sharma (Hershey, Amerika Serikat: Idea Group Publishing, 2004), hlm. 154.

[29] Gunawan Widjaja dan Ahmad Yani, Transaksi Bisnis Internasional (Ekspor-Impor & Imbal Beli), ed. ke-1, cet. 1 (Jakarta: PT RajaGrafindo Persada, 2001), hlm. 5.

[30] Kenneth N. Kuttner dan James J. McAndrews, “Personal On-Line Payments”, Economic Policy Review, Vol. 7, No. 3, Desember 2001, hlm. 37, <http://ssrn.com/abstract= 840044>, diakses 27 Oktober 2008.

[31] Indonesia, Bank Indonesia, Sistem Pembayaran, <http://www.bi.go. id/web/id/FAQ_web/ Sistem+Pembayaran/default.htm?Page=2>, diakses 13 November 2008.

[32] Kuttner dan McAndrews, loc. cit.

[33] Solikin dan Suseno, Uang: Pengertian, Penciptaan dan Perananannya dalam Perekonomian. Seri Kebanksentralan (Jakarta: Pusat Pendidikan dan Studi Kebanksentralan (PPSK) BI, 2002), hlm. 1.

[34] David E. O’Connor, The Basics of Economics (Connecticut: Greenwood Publishing Group, 2004), hlm. 189.

[35] Jagdish Handa, Monetary Economics, 2nd Edition (New York: Routledge, 2009), hlm. 5.

[36] Ibid., hlm. 5.

[37] Charles Hopkins, et al., General Business in Our Modern Society (California: Glencoe Publishing, 1979), hlm.179.

[38] Solikin dan Suseno, op. cit. hlm. 1.

[39] David S. Kidwell, et al., Financial Institutions, Markets, and Money, 5th Ed., (Forth Worth: The Dryden Press, 1993), hlm. 6.

[40] The Congress of the United Stated Congressional Budget Office, Emerging Electronic Methods for Making Retail Payment, (Washington, DC: 1996), hlm. 2.

[41] Guttmann, op. cit., hlm. 110.

[42] David B. Humphrey, Payment Systems: Principles, Practice and Improvements. World Bank Technical Paper Number 260 (Washington, D.C: The International Bank for Recontruction and Development/The World Bank, 1995), hlm. 4.

[43] Ibid.

[44] Di Indonesia, instrumen pembayaran tunai adalah mata uang Rupiah yang terdiri dari uang logam dan uang kertas. Kedua jenis uang ini dikeluarkan oleh Bank Indonesia, sesuai dengan ketentuan dalam Undang-Undang No. 23 tahun 1999 tentang Bank Indonesia.

[45] Sri Mulyati Tri Subari dan Ascarya, Kebijakan Sistem Pembayaran di Indonesia. Seri Kebanksetralan No. 8 (Jakarta: Pusat Pendidikan dan Studi Kebanksentralan (PPSK) BI, 2003), hlm. 35.

[46] Ibid., hlm. 9.

[47] Ibid., hlm. 30.

[48] Pasal 6 huruf e Undang-Undang No. 7 Tahun 1992 tentang Perbankan (LN No. 31 Tahun 1992, TLN No. 3472) jo. Undang-Undang No. 10 Tahun 1998 (LN No. 182 Tahun 1998, TLN No. 3790).

[49] Simpanan dalam bentuk giro (demand deposits) sering disebut sebagai uang giral dan dianggap sama seperti uang tunai. Oleh sebab itu, pembayaran yang dilakukan dengan giro dapat disebut pembayaran tunai. Namun, uang giral bukan merupakan alat pembayaran yang sah. Pembayaran dengan giro dapat dilakukan atas kesepakatan para pihak.

[50] M. Bahsan, Giro dan Bilyet Giro (Jakarta: PT. RajaGrafindo Persada, 2005), hlm. 3.

[51] Ibid., hlm. 38.

[52] Di berbagai negara, jaringan ACH biasanya berporos pada sistem RTGS (Real Time Gross Settlement) yang menjadi tempat setelmen akhir dari semua sistem setelmen yang ada. Di Indonesia, Bank Indonesia menerapkan sistem BI-RTGS yang merupakan sistem setelmen berbasis gross dengan sistem online antara bank-bank dan Bank Indonesia. Dengan BI-RTGS, pembayaran dilakukan per transaksi dan bersifat realtime. Bank peserta dapat didebet/dikredit berkali-kali dalam sehari sesuai dengan perintah pembayaran dan penerimaan pembayaran. Lihat Tri Subari dan Ascarya, op. cit., hlm. 18.

[53] O’Mahony, Peirce dan Tewari, op. cit., hlm. 9.

[54] Dictionary of Banking and Finance, 3rd Ed. (London: A&C Black), hlm. 378.

[55] O’Mahony, Peirce dan Tewari, op. cit., hlm. 12.

[56] Ibid.

[57] Tri Subari dan Ascarya, op. cit., hlm. 42.

[58] Ibid., hlm. 13.

[59] Dennis Abrazhevich, Electronic Payment Systems: A User-centered Perspective and Interaction Design (Eindhoven: Technische Universiteit Eindhoven,2004), hlm. 2.

[60] Thomas Lammer, Handbuch: E-money, E-Payment & M-Payment (Heidelberg: Physica Verlag, 2006), hlm. 7.

[61] Ibid., hlm. 4.

[62] Andreas Meier dan Henrik Stormer, eBusiness & eCommerce. Management der digitalen Wertschöpfungskette, 2nd Ed. (Berlin: Springer, 2008), hlm. 152.

[63] Frederic S. Mishkin, The Economics of Money, Banking, and Financial Markets, 7th Ed., (USA: Addison-Wesley, 2004), hlm. 51.

[64] Electronic check ditawarkan mulai pertengahan 1995 oleh beberapa bank besar. Mekanismenya menggunakan sarana e-mail. Sama seperti paper check, tidak ada jaminan bahwa dana yang tersimpan dalam rekening penulis cek selalu tersedia.

[65] EDI (Electronic Data Interchange) merupakan transfer informasi secara elektronik dalam format yang terstandarisasi dan terbaca oleh komputer. Perusahaan dan mitra dagangnya biasanya menggunakan EDI untuk bertukar order pembelian, invoice dan dokumen bisnis lain. Informasi biasanya dikirim melalui sebuah VAN (Value-Added Network), sebuah jaringan komunikasi pihak ketiga yang memungkinkan mitra dagang untuk mengirim dan menerima informasi transaksi bisnis secara elektronik. Dalam hal ini, pihak ketiga dapat juga berupa bank sehingga sering disebut VAB (Value-Added Bank). Istilah FEDI (Financial EDI) merujuk pada transfer informasi berupa transfer dana secara elektronik. Pembayaran yang dilakukan melalui FEDI melibatkan institusi keuangan untuk mentransfer dana tersebut, yang biasanya melalui jaringan ACH. Jenis pembayaran ini umumya diterapkan oleh perusahaan besar dalam model bisnis B2B karena sistem pembayaran ini membutuhkan perangkat komputer yang mahal. Kemunculan teknologi Internet, tidak sertamerta menggantikan sistem EDI. Justeru, Internet digunakan sebagai sarana, yang disebut Web EDI atauEDI over the Internet. Lihat Mary S. Schaeffer, New Payment World. A Manager’s Guide to Creating An Efficient Payment Process (New Jersey: John Wiley & Sons, Inc., 2007), hlm. 55.

[66] The Congress of the United Stated Congressional Budget Office, op. cit., hlm. 1.

[67] Kuttner dan McAndrews, loc. cit.  hlm. 35.

[68] Subari dan Ascarya, op. cit., hlm. 45.

[69] Paul Benjamin Lowry, et al., “Online Payment Gateways Used to Facilitate E-Commerce Transactions and Improve Risk Management”, Communications of the Association for Information Systems (CAIS), Vol. 17, No. 6, pp. 1-48, 2005, hlm. 15 <http://ssrn.com/abstract=879797&gt;, diakses 26 Agustus 2008.

[70] Abrazhevich, op cit., hlm. 29.

[71] Indonesia, Undang-Undang Tentang Bank Indonesia, UU Nomor 23 Tahun 1999, LN No. 66 Tahun 1999, TLN No. 3843, sebagaimana telah diubah dengan UU Nomor 3 Tahun 2004, LN No. 7 tahun 2004, TLN No. 4357.

[72] Bank Indonesia, White Paper Berkaitan dengan Reformasi Sistem Pembayaran Nasional(Jakarta: Bank Indonesia, 1996), hlm. 1.

[73] Subari dan Ascarya, op. cit., hlm. 6.

[74] Ibid., hlm. 34.

NB: Tulisan © 2009, semoga bermanfaat.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s