Indonesia Berazaskan Ketuhanan yang Maha Esa?

Banyak orang yang salah kaprah dengan satu kalimat ini. Salah kaprahnya di mana? Bahwa karena negara berdasarkan kepada Ketuhanan yang Maha Esa (YME), maka tidak diperbolehkan seorang atheis pun tinggal di negeri ini. Adalah berbahaya jika prinsip ini disalahartikan. Pertanyaannya adalah: Apakah Negara Berdasarkan kepada Ketuhanan YME adalah SAMA dengan Negara Berdasarkan kepada Agama? Sepintas, mungkin orang akan mengatakan IYA!! Tetapi, kalau dipahami, sebenarnya tidak demikian. Dalam hal bernegara, tidak ada kaitan langsung antara Ketuhanan YME dengan Agama. Bahkan, dalam kondisi tertentu, Ketuhanan YME bisa bertentangan dengan Agama. Kog bisa? Tentu saja, karena bisa saja agama tidak ber-Ketuhanan YME (Tuhan Jamak).

Bagaimana dengan istilah Agama Resmi di Indonesia? Tidak ada istilah agama resmi ataupun agama yang diakui di Indonesia. Adalah hal yang lucu apabila sebuah agama diakui oleh negara? Diakui atas apanya? Atas kebenarannya? Jadi, negara mengakui kebenaran agama? Berarti negara mengakui 5 kebenaran agama sekaligus? Bukankah kebenaran itu hanyalah satu? Apakah ada kebenaran ilahi yang bersifat jamak? Benar di sana, benar di sini. Apabila iya, maka negara hanyalah membuat kekacauan dan kebingungan bagi warga negaranya. Pandangan ini adalah keliru. Tidak ada istilah agama resmi di Indonesia atau yang diakui karena ini bertentangan dengan UUD 1945, terutama:

BAB XI
AGAMA
Pasal 29
(1) Negara berdasar Ketuhanan Yang Maha Esa
(2) Negara menjamin kemerdekaan tiap-tiap penduduk untuk memeluk
agamanya masing-masing dan untuk beribadat menurut agamanya dan
kepercayaannya itu.

——–Catatan: Ayat (2) sebenarnya kurang lengkap dan tidak tegas. Seharusnya tertulis: Negara menjamin kemerdekaan tiap-tiap penduduk untuk memeluk agama dan kepercayaannya masing-masing ……

Penjelasan Pasal 29 (1) UUD 1945: Ayat ini untuk menyatakan kepercayaan bangsa Indonesia terhadap Tuhan Yang Maha Esa.

Berdasarkan penjelasan di atas, tidak ada maksud negara untuk meletakkan agama sebagai landasan untuk bernegara, melainkan Ketuhanan YME yang menjadi landasan dalam bernegara dan berbangsa. Maksudnya, di dalam melaksanakan misi-misi dan mencapai tujuan-tujuan bernegara dan berbangsa, prinsip yang ditonjolkan adalah prinsip Berketuhanan YME. Artinya, tidak boleh negara itu melakukan tindakan-tindakan yang bertentangan dengan prinsip Ketuhanan YME. Dalam hal ini, subyeknya adalah negara (yang dikuasakan kepada pemerintah), bukan warganya.

Prinsip Ketuhanan YME merupakan prinsip yang dianggap baik oleh the founding father untuk mengatur negara ini. Bagaimanapun juga, dalam semua agama, ada nilai-nilai kebaikan yang bersifat universal. Nilai-nilai kebaikan inilah yang menjadi landasan kita dalam berbangsa. Itupun tidak semata-mata hanya prinsip Ketuhanan YME. Penjelasan Umum UUD 1945 menggandengkan prinsip ini dengan prinsip kemanusiaan yang adil dan beradab:

Pokok pikiran yang keempat, yang terkandung dalam “pembukaan” ialah
Negara berdasar atas Ketuhanan Yang Maha Esa menurut dasar
kemanusiaan yang adil dan beradab.

Artinya, dalam menjalankan prinsip Ketuhanan YME tadi, harus tetap memperhatikan prinsip Kemanusiaan yang Adil dan Beradab. Bagaimana konsekuensinya? Agar lebih pas, sebaiknya dengan contoh, misalnya kasus Rencana Pembubaran Ahmadiyah. Apakah adil dan beradab untuk mengenyahkan manusia-manusia yang mengaku beragama Islam Ahmadiyah dengan cara-cara kekerasan? Apakah adil untuk membatasi hanya beberapa keyakinan saja di muka bumi Indonesia ini? 

Seorang ahli hukum tata negara mengatakan bahwa masalah keyakinan tidak dapat diselesaikan (dihakimi) dengan sebuah SKB (Surat Keputusan Bersama) para Menteri dan harusnya diserahkan kepada lembaga yudikatif. Namun, ada pendapat lain bahwa keyakinan terhadap sebuah agama/kepercayaan bukan domain dari hukum. Keyakinan baru dapat masuk ke ranah hukum apabila ada tindakan-tindakan terkait ritual kepercayaan tersebut yang merugikan atau menimbulkan keresahan. Namun, munculnya sebuah agama/kepercayaan tidak berarti langsung meresahkan pemeluk agama lain. Harusnya, kita gembira kalau semakin banyak orang Indonesia yang memeluk sebuah kepercayaan monotheis, karena banyak penduduk Indonesia yang masih belum beragama atau pun tidak percaya kepada satu Tuhan. Indonesia sudah sejak lama bersifat pluralistis dan kondisi ini sudah menjadi kekayaan/kebudayaan Indonesia itu sendiri. 

Salah seorang pemimpin umat mengatakan bahwa masalah Ahmadiyah bukan masalah kebebasan beragama. Dia mengaku paham betul mengenai masalah kebebasan agama. Dia menekankan bahwa masalah Ahmadiyah merupakan masalah penodaan agama. Okelah kalau begitu, tetapi apakah beliau tidak paham betul bahwa masalah penodaan agama merupakan masalah pidana dan harus diselesaikan oleh lembaga pengadilan? Bila memang masalah penodaan agama, langkah yang dapat diambil adalah melaporkannya kepada pihak kepolisian (atau bahasa orang Medan: dipolisikan saja!). Biar, nanti hakim yang memutuskan bahwa memang Ahmadiyah melakukan penistaan agama.

Pasal 156a KUHP:
Dipidana dengan pidana penjara selama-lumanya 5 tahun barang siapa dengan
sengaja di muka umum mengeluarkan perasaan atau melakukan perbuatan: (a) yang
pada pokoknya bcrsifat permusuhan, penyalahgunaan atau penodaan terhadap
suatu agama yang dianut di Indonesia; (b) dengan maksud agar supaya orang tidak
menganut agama apa pun juga, yang bersendikan Ketuhanan Yang Maha Esa.

Di sisi lain, sebenarnya prinsip Ketuhanan YME sama sekali tidak berhubungan dengan masalah kewajiban warga negara untuk beragama. Prinsip ini digunakan untuk menjamin bahwa pemerintah sebagai pihak yang mewakili negara harus melaksanakan tugas-tugas yang diemban oleh negara dengan:
1. Tidak melakukan tindakan-tindakan otoriter sehingga negara tidak bertindak sebagai ‘Tuhan’ karena negara percaya bahwa di atas negara, masih ada kekuasaan Tuhan YME. 
2. Dalam memperlakukan warga negara, pemerintah harus memperhatikan hal-hal yang baik yang adil dan beradab, tidak semena-mena. Apabila ada warganegara yang bertindak seperti seorang ‘Tuhan’ kepada warganegara lain, maka negara wajib melindungi warganegaranya yang bahkan seorang atheis sekalipun.

Dalam hal bernegara dan berbangsa, prinsip berKetuhanan YME pada dasarnya tidak menuntut manusia untuk memiliki Tuhan YME atau memiliki kepercayaan/agama. Namun, manusia dituntut untuk tidak berkelakuan seperti tidak punya Tuhan YME/agama/kepercayaan. Siapa yang menjaganya? Ya..negara! Logikanya, sesuatu yang dianggap baik (bila ber-Tuhan YME) memang harus dijadikan prinsip. Namun, bukan berarti memaksakan ‘kebaikan’ tersebut untuk diikuti dan dianut oleh orang lain karena pemaksaan itu tidak baik.

Bilapun negara berazaskan kepada agama sekalipun, bukan berarti bahwa pemeluk agama lain tidak boleh hidup di negara ini. Agama tidak boleh dijadikan sebagai alasan pembenaran karena pembenaran hanyalah ada pada waktunya nanti setelah kiamat. Selama ini, banyak orang yang melakukan pembenaran dini terhadap sebuah perbenaran. Hal ini terjadi karena agama dijadikan sebagai alat kekuasaan, dieksploitasi sedemikian rupa menjadi sebuah motor penggerak, dan memang biasanya terbukti manjur.

About these ads

One thought on “Indonesia Berazaskan Ketuhanan yang Maha Esa?

  1. 16j42 wrote on Jun 9, ’08
    terima kasih atas sajian tulisannya, sebagai salah satu bahan pertimbangan berkenaan dengan salah satu persoalan aktual di indonesia.

    ibnusomowiyono wrote on Mar 15, ’11
    Yang tak memeluk agama belum tentu atheis, sepanjang dia/mereka menghormati dan melestarikan ciptaan Nya, dapat hidup berdampingan dengan sesama ciptaan Nya. Sebaliknya yang mengaku beragama jika “merusak” ciptaan Nya karena merasa superior sehingga merasa boleh bertindak sekehendaknya perlu dipertanyakan apakah dia patuh pada Nya.
    Tak ada agama yang mengajarkan merusak ciptaan Nya, karena Dia telah mendelegasikan sebagain dari wewenang Nya kepada setiap ciptaan Nya untuk mengurusi diri, jenis dan lingkungannya.
    Merusak ciptaan Nya akan berhadapan dengan seluruh ciptaan Nya.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s