Aliran Sesat: Semua Agama “Sesat”?

Di sebuah tayangan media TV, sempat terlihat seorang penganut aliran yang dianggap sesat sedang diinterogasi. “Negara kan hanya mengakui 5 agama….bla…bla ..bla”. Dengan jelas, orang yang menginterogasi menyatakan bahwa selain agama di atas tidak boleh ada agama lain. Wah di jaman sekarang masih banyak orang yang beranggapan seperti ini. Sebenarnya istilah agama yang diakui negara atau agama resmi negara tidak ada. Sangat memprihatinkan banyak orang yang bertindak atas dasar yang tidak dimengertinya. Tentu kita semua tidak ingin banyak orang seperti itu yang bertindak sewenang-wenang, main hakim sendiri. Padahal untuk menjadi hakim orang harus mendapat pengetahuan khusus. Bila negara hanya mengakui beberapa agama saja, maka pengakuan ini paling tidak mesti tertera dalam UUD/konstitusi kita sehingga berlaku secara nasional. Yang ada malah negara menjamin kebebasan beragama di Indonesia dan tidak disebutkan bahwa negara memberikan pengakuan terhadap agama-agama di Indonesia. Memang, pada tahun 1978, pernah ada Surat Edaran dari Mendagri (No. 477/74054 tanggal 18 November 1978) bahwa untuk pengisian kolom agama di KTP hanya 5 agama yang diakui oleh pemerintah, yakni Islam, Kristen, Katolik, Hindu dan Budha. Namun, Surat Edaran (SE) ini sudah dicabut. Walau SE ini tetap berlaku sekalipun, orang tidak bisa langsung menafsirkannya sebagai agama yang resmi diakui. Sebuah SE sebenarnya bukanlah sebuah pengaturan (regulasi) dan hanya bersifat internal di lembaga itu saja. Sama sekali tidak berlaku bagi masyarakat (publik). Jadi, sebaiknya, masyarakat jangan membawa-bawa ketentuan dalam SE tersebut.

Nah, bagaimana dengan sebuah aliran yang dianggap sesat? Apakah penganut aliran sesat dapat dituduhkan atas pasal Penodaan Terhadap Agama?:

Pasal 156a KUHP:

Dipidana dengan pidana penjara selama-lamanya lima tahun barang siapa dengan sengaja di muka umum mengeluarkan perasaan atau melakukan perbuatan:

a. yang pada pokoknya bersifat permusuhan, penyalahgunaan atau penodaan terhadap suatu agama yang dianut di Indonesia;

b. dengan maksud agar supaya orang tidak menganut agama apa pun juga, yang bersendikan Ketuhanan Yang Maha Esa.

Adalah hal yang tidak mudah untuk mengklaim sebuah aliran merupakan aliran agama yang sesat. Walaupun masyarakat setuju untuk sama-sama kompak menuduhkan kesesatan sebuah aliran, pertanyaannya adalah atas dasar apakah tuduhan tersebut? Bukankah kita ini juga merupakan ‘penganut agama sesat’ di antara kita masing-masing yang berbeda agama? Setiap penganut agama yang ‘benar’ pasti menganggap agamanya yang ‘benar’ dan penganut agama lain ‘tidak benar’ (baca: sesat).  Tidakkah kita setiap saat bergaul dengan orang ‘sesat’? Selama ini, tidak banyak benturan yang tajam antar penganut agama yang ‘sesat’ walaupun kita tidak menutup mata kejadian-kejadian yang ada di wilayah Timur. Bisa jadi karena selama ini masyarakat sudah diajarkan mengenai adanya toleransi. Bingungnya, mengapa toleransi ini pun tidak ada (tidak berlaku) di antara penganut sebuah agama. Seolah-olah secara internal dia tidak eksis dan setiap perbedaan harus dibinasakan. Baiklah, sampai di sini, semuanya sudah jelas bahwa ‘kesesatan’ antarpenganut agama di negara ini dilindungi oleh sebuah toleransi yang diklaim sudah menjadi nilai-nilai tradisi sejak jaman dahoeloe kala.  

Apakah yang dimaksudkan dengan toleransi? Menurut MS Encarta, toleranceberarti menerima perbedaan pandangan, misalnya dalam hal agama atau politik. Bisa jadi, toleransi yang disebutkan di sini bukanlah penerimaan secara total bahwa setelah menerima tentu harus ada peresapan dan aktualisasi perbuatan. Sebuah toleransi adalah keterpaksaan untuk menerima dan bisa juga sebuah kesukarelaan untuk menerima. Keduanya sama saja, tidak penting apakah kita bertoleransi karena terpaksa atau sukarela. Poin yang terpenting , penerimaan di sini lebih kepada pengakuan atas hak-hak orang lain untuk bebas mengekspresikan pandangannya masing-masing demi keadilan. Pada prinsipnya, keyakinan belum menciptakan sebuah ketersinggungan dengan orang lain. Norma-norma agama hanya mengatur hubungan antara manusia dengan sang pencipta yang dinyakininya, bukan manusia dengan manusia dan Tuhan. Ketika realisasi norma-norma agama kemudian menjadi urusan antarmanusia, maka norma yang berlaku bukan lagi norma agama, melainkan norma masyarakat. Setiap ruang memiliki norma tersendiri. Menghukum orang lain atas dasar norma sendiri merupakan perbuatan yang tidak toleran karena orang lain pun memiliki norma tersendiri yang dianggapnya berlaku bagi dirinya. Mengutip tulisan dari Zuhairi MisrawiMichael Walzer (1997) memandang toleransi sebagai keniscayaan (mau tidak mau) dalam ruang individu dan ruang publik karena salah satu tujuan toleransi adalah membangun hidup damai (peaceful coexsistance).

Pada akhirnya, kita harus melihat konteks bernegara. Bila memang konteks bernegara tidak lagi menjadi faktor penting dalam mengatasi permasalahan yang terjadi di negara ini dan lebih mementingkan kemauan golongan mayoritas, negara harus dibubarkan saja karena tidak sesuai dengan cita-cita pendiri bangsa yang tercantum dalam konstitusi/UUD kita. Sebuah negara semata-mata hanya sebuah ikatan/kontrak di antara warga negara. Dalam kontrak tersebut, negara harus menjamin aspirasi dari warganegara, baik yang menuntut kesatuan pandangan ataupun yang menuntut toleransi atas perbedaan pandangan. Sekarang, siapakah negara itu? Ya kelompok-kelompok tadi, baik yang minoritas dan mayoritas. Para penganut agama sebenarnya tidak perlu khawatir dengan hak-hak mereka. Namun, bukan berarti penganut agama yang mayoritas dapat memaksakan keinginannya hanya karena faktor kemayoritasannya. Sebuah negara memiliki norma hukum. Penganut aliran yang melanggar norma-norma hukum harus ditindak. Negara jangan membiarkan sang mayoritas melakukan penghakiman sendiri. Keyakinan atas suatu ajaran agama tertentu tidak dapat divonis berdasarkan keyakinan lain. Negara hanya dapat memvonis sebuah aliran bila memang nyata-nyata penganut aliran tersebut melakukan pelanggaran hukum yang merugikan hak-hak orang lain. Dan hak untuk menjadi satu-satunya atau menjadi salah satu aliran/keyakinan yang ‘benar’ tidak boleh melanggar hak orang lain untuk dianggap ‘benar’. Mau kemana kita sekarang? Membinasakan ‘kesesatan’ di antara yang ‘sesat’ dan hidup tanpa kedamaian (hidup penuh rasa khawatir, was-was, dan ketakutan) atau bertoleransi sesama yang ‘sesat’ agar hidup damai? Sepertinya kita harus membiasakan diri dengan kata ‘sesat’ agar tidak terlalu sensitif dengan kata tersebut. 

About these ads

One thought on “Aliran Sesat: Semua Agama “Sesat”?

  1. raniemaharief wrote on Dec 17, ’07
    well, no doubt about your opinion.
    lets see several things here, that a nation built not only by a treaty, but also with a land , government and people. relation between people and government, this what make a treaty. based on Rousseau theory thats what he said about Human rights.
    in the frame of human rights, thats how I see about this kind of freedom. that everyone should have a freedom of opinion on their mind. how can we push someone to believe what they just don’t trust? how could we know what’s on their mind anyway? this is what I see, that people whoever they’re they just have to be free to decide what they believe.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s